![]() |
| Produk modest fashion terbaru Belyanza. |
Namun, gemilang di atas panggung internasional tak datang dalam semalam. Lebih dari satu dekade Belyanza melalui proses panjang: masa pencarian identitas, badai pandemi, adaptasi teknologi digital, hingga akhirnya menemukan karakter unik yang membedakannya dari kompetitor.
Nita Belliani Burhan, CEO, Founder, sekaligus desainer di balik Belyanza, mengakui bahwa perjalanan mereknya sangat erat kaitannya dengan lika-liku kehidupannya sendiri.
"Sebenarnya Belyanza mulai saya rintis dari 2011, meski saat itu masih menggunakan nama yang berbeda. Nama Belyanza resmi berdiri pada awal 2013," ungkapnya kepada Humas Kota Bandung, Rabu (22/7/2026).
Sebelum terjun ke industri fesyen, Nita dikenal sebagai penyanyi di dunia hiburan. Saat menjalani proses hijrah, ia mulai mencari busana muslim yang sesuai dengan selera dan gaya berpakaiannya. Namun, pilihan yang tersedia saat itu belum sepenuhnya merepresentasikan karakter yang diinginkannya.
Awalnya, ia menjual kembali pakaian dari pusat grosir seperti Tanah Abang dan Thamrin City. Namun untuk kebutuhan pribadi, ia justru lebih sering membeli pakaian bekas dan memodifikasinya sendiri.
"Saya membeli baju-baju thrift, lalu saya gunting, saya ubah, saya mix and match sesuai gaya saya. Ternyata pelanggan lebih suka baju yang saya pakai dibandingkan baju yang saya jual," kenangnya.
Pengalaman sederhana itu menjadi titik balik. Setelah sekitar satu tahun menjual produk orang lain, Nita memutuskan membangun brand sendiri. Keputusan tersebut sekaligus menjadi awal perjalanan panjang Belyanza dalam mencari identitas.
Membangun Belyanza bukan sekadar membuat koleksi pakaian. Nita mengaku harus belajar dari awal, mulai dari membuat pola, memotong kain, hingga menjahit sendiri. Pada 2012, ia memutuskan mempelajari teknik pola dan jahit secara serius hingga akhirnya memiliki konveksi sendiri. Namun, tantangan berikutnya justru lebih besar, yakni menemukan DNA sebuah brand.
Menurutnya, sekadar mengikuti tren tidak cukup untuk membuat sebuah usaha bertahan.
"Pencarian jati diri memang tidak mudah. Kami mengikuti tren, tetapi juga harus menemukan karakter yang berbeda agar bisa bertahan. Pada akhirnya saya kembali menjadi diri sendiri. Saya menyadari bahwa rezeki saya adalah menjadi diri sendiri," katanya.
Karakter pribadi itu kemudian menjadi fondasi Belyanza. Berbeda dengan banyak brand modest fashion yang identik dengan motif bunga atau polkadot, Belyanza justru memilih gaya yang lebih aktif, tegas, dan modern.
"Saya bukan perempuan yang terlalu feminin. Saya tidak terlalu suka bunga atau polkadot. Karena itu saya ingin mewadahi perempuan aktif, perempuan yang kuat dan punya karakter," terangnya.
Identitas tersebut kemudian diperkuat melalui penggunaan detail bordir dan sulam yang diaplikasikan pada busana bergaya street style, active wear, hingga pakaian yang fleksibel digunakan dalam berbagai aktivitas.
Ujian Pandemi yang Membentuk Ketangguhan
Perjalanan Belyanza kembali diuji ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat itu, Belyanza telah memiliki sekitar 16 store di berbagai daerah di Indonesia.
Menjelang Lebaran, permintaan pasar meningkat tajam sehingga perusahaan telah membeli bahan baku dalam jumlah besar, dengan nilai yang menurut Nita hampir mencapai Rp1 miliar.
Namun pandemi mengubah segalanya. Stok yang telah dipersiapkan untuk koleksi Lebaran berubah menjadi dead stock. Di sisi lain, perusahaan tetap harus membayar gaji karyawan dan menjaga roda usaha tetap berjalan.
"Tantangan paling berat tentu saat pandemi. Kami sudah membeli bahan dalam jumlah besar, tetapi permintaan langsung berhenti. Saat itu kami harus berpikir bagaimana usaha ini tetap hidup dan semua SDM tetap bisa bekerja," ujarnya.
Alih-alih berhenti, Belyanza memilih beradaptasi. Berbekal masukan dari mertuanya yang berprofesi sebagai dokter, Nita dan suaminya mulai memproduksi alat pelindung diri (APD) yang saat itu menjadi kebutuhan mendesak. Langkah tersebut membuat seluruh penjahit dan karyawan tetap memiliki pekerjaan.
Selain memproduksi APD, Belyanza juga sempat mengembangkan produk makanan sehat. Dari pengalaman itulah lahir perspektif baru mengenai pentingnya wellness dan gaya hidup sehat yang kemudian memengaruhi arah pengembangan produknya.
"Pandemi memaksa kami menjadi lebih kreatif. Sekarang kami tidak hanya memikirkan desain, tetapi juga bagaimana pakaian bisa mendukung gaya hidup masyarakat yang semakin aktif," tutur Nita.
Kini, Belyanza mengembangkan koleksi yang dirancang untuk menemani berbagai aktivitas, mulai dari olahraga, bekerja, hingga kegiatan sehari-hari.
Semangat untuk terus beradaptasi tidak berhenti setelah pandemi. Pada 2024, ketika teknologi kecerdasan buatan (AI) belum banyak digunakan di industri fashion Indonesia, Nita memilih mempelajarinya secara langsung dari mentor asal Rusia. Baginya, AI bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan alat untuk membantu proses kreatif.
Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan visualisasi desain dan konten sehingga gagasan yang sebelumnya hanya berupa sketsa dapat divisualisasikan menjadi lebih nyata. Salah satu implementasinya hadir dalam koleksi Whisper of the Sea yang ditampilkan pada Jakarta Muslim Fashion Week 2024. Koleksi tersebut mengangkat inspirasi tentang ketenangan perempuan dalam menghadapi ujian hidup dan divisualisasikan dengan bantuan teknologi AI.
Perjalanan panjang tersebut perlahan membuka peluang yang lebih luas. Sejak 2023, Belyanza aktif mengikuti pembinaan dan kurasi yang diselenggarakan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung. Berbagai pembinaan tersebut membantu perusahaan memahami kebutuhan pasar internasional sekaligus mempersiapkan diri untuk memasuki pasar global.
Menapaki Panggung Global di Mega Halal Bangkok
Upaya itu berbuah hasil ketika Belyanza terpilih menjadi salah satu UMKM Kota Bandung yang mengikuti Mega Halal Bangkok 2026. Dalam ajang tersebut, Belyanza memperkenalkan berbagai produk, mulai dari hijab, outerwear, hingga active wear. Hijab menjadi salah satu produk yang paling cepat habis, disusul outerwear dan setelan olahraga.
Nita juga mengaku memperoleh respons positif dari buyer maupun pengunjung yang hadir.
"Yang paling saya syukuri bukan hanya produknya disukai, tetapi ada buyer yang ingin melanjutkan pembicaraan untuk kerja sama. Selain itu, kepercayaan terhadap brand juga meningkat karena kami dianggap mampu memenuhi standar kualitas untuk tampil di pameran internasional," tuturnya.
Bagi Nita, tampil di Bangkok bukanlah garis akhir perjalanan Belyanza, melainkan langkah awal untuk membawa modest fashion asal Kota Bandung agar semakin dikenal di pasar dunia. Ia meyakini setiap UMKM memiliki peluang yang sama untuk berkembang, selama mampu menemukan karakter yang membedakannya dari yang lain dan terus beradaptasi terhadap perubahan.
"Produk tidak cukup hanya disukai, tetapi juga harus menjadi kebutuhan. Ketika menjadi kebutuhan, pelanggan akan kembali membeli. Karena itu UMKM harus terus belajar, terus beradaptasi, dan berani menemukan DNA-nya sendiri," tuturnya.
Saat ini, produk Belyanza dapat anda jumpai di Sogo Paris van Java dan Umama cabang Jalan Banda untuk di Kota Bandung. Selain itu, produk mereka juga ada di Umama cabang Karawang dan Umama cabang Pekanbaru. Anda juga dapat mengenal lebih dekat Belyanza, salah satu UMKM terbaik asal Kota Bandung lewat Instagram mereka @belyanza.official. (ray/rtm)


