![]() |
| Profil Gusdur tampil di Gedung Pusat Kebudayaan Tionghoa Indonesia Bandung. |
Farhan menegaskan bahwa inisiatif dari YDSP dalam mendirikan
pusat kebudayaan ini menjadi bukti nyata bahwa keberagaman budaya dapat hidup
berdampingan secara harmonis dan menyatu dengan masyarakat sekitar. "Pusat
Kebudayaan Tionghoa di Bandung ini merupakan karya YDSP yang menunjukkan bahwa
kebinekaan budaya di kota ini bisa bersatu dan melebur dengan warga," ujar
Farhan.
Ia juga menyampaikan komitmen Pemerintah Kota Bandung untuk
memastikan kawasan di sekitar pusat kebudayaan dilengkapi dengan infrastruktur
yang memadai. "Kami akan memastikan fasilitas pendukung di sekitarnya
terawat dan terbangun dengan baik agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh
masyarakat," tambahnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menilai
bahwa kehadiran pusat kebudayaan ini semakin mengukuhkan posisi Bandung sebagai
kota dengan kekayaan budaya yang majemuk. Namun, ia mengingatkan agar gedung
megah ini tidak menjadi simbol kesenjangan, melainkan mampu memberikan manfaat
langsung bagi warga, terutama melalui peningkatan produktivitas dan
kesejahteraan ekonomi.
Dedi bahkan mengusulkan penataan kawasan secara holistik
agar pusat kebudayaan terintegrasi dengan lingkungan dan menjadi destinasi
wisata baru. Ia menyarankan akses menuju kawasan, termasuk Gerbang Tol Pasir
Koja, diberi sentuhan ornamen khas Tionghoa. Trotoar dan pencahayaan dengan
lampion, serta penataan permukiman yang rapi, juga menjadi bagian dari rencana
revitalisasi.
Tak hanya aspek fisik, Dedi mendorong pemberdayaan
masyarakat sekitar melalui pelatihan kewirausahaan. Warga dapat dibekali
keterampilan membuat kuliner, suvenir bernuansa Tionghoa, hingga strategi
pemasaran agar mampu menangkap peluang dari kunjungan wisatawan.
"Masyarakat sekitar harus dididik untuk memiliki produktivitas, bukan
sekadar meminta sumbangan," tegasnya.
Ia juga mengusulkan pagelaran budaya secara rutin, seperti
pertunjukan yang menggabungkan seni Sunda dan Tionghoa, sebagai daya tarik
sekaligus ruang interaksi masyarakat. "Seminggu atau sebulan sekali kita
adakan pagelaran. Biaya bisa ditanggung Pemprov, yang penting masyarakat datang
dan menikmati akulturasi budaya Sunda-Tionghoa," katanya.
Dedi menambahkan bahwa hubungan budaya antara masyarakat
Sunda dan Tionghoa bukanlah hal baru. Pengaruh Tionghoa telah lama terasa dalam
kuliner, bahasa, hingga tradisi di Jawa Barat. Oleh karena itu, peresmian ini
diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antarbudaya. "Mari
kita bangun peradaban ini dengan pendekatan kebudayaan," ujarnya.


