Kronologi Viral Dugaan Bullying di Unity School Galaxy Bekasi, CCTV Bantah Ada Perundungan - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Kronologi Viral Dugaan Bullying di Unity School Galaxy Bekasi, CCTV Bantah Ada Perundungan

Gedung Unity School Galaxy, Kota Bekasi.
Prakata.com - Sebuah kasus dugaan perundungan yang melibatkan siswa di Unity School Galaxy, Bekasi Selatan, menjadi perbincangan hangat setelah seorang orang tua murid melaporkan anaknya diduga menjadi sasaran bullying di lingkungan sekolah. Insiden yang semula hanya terjadi di antara siswa tersebut akhirnya melebar hingga ke Dinas Pendidikan dan turut dibahas dalam rapat audiensi bersama Komisi IV DPRD Kota Bekasi.

Di tengah hiruk-pikuknya isu yang telah tersebar luas, pihak sekolah justru menyatakan bahwa hasil penyelidikan internal mereka tidak menemukan adanya indikasi perundungan.

Seorang ibu berinisial K, selaku orang tua siswa, mengungkapkan bahwa peristiwa ini berawal pada tanggal 16 Juli 2026. Saat itu, seorang wali murid menghubungi wali kelas untuk melaporkan bahwa putra/putrinya diduga menjadi korban bully. Laporan tersebut selanjutnya diteruskan ke pihak sekolah dan kepala sekolah untuk proses lebih lanjut.

"Situasi ini pertama kali muncul pada 16 Juli, ketika ibu pelapor menelepon wali kelas dan menginformasikan bahwa anaknya mengalami perundungan. Laporan tersebut kemudian kami teruskan ke kepala sekolah untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut," jelasnya, saat ditemui pada Selasa (18/8/2026).

Karena penyampaian laporan terjadi menjelang akhir pekan, pihak sekolah baru bisa melakukan langkah-langkah internal pada Senin minggu berikutnya. K menambahkan, dalam proses penyelidikan tersebut, sekolah berupaya menelusuri fakta-fakta guna mengungkap kronologi yang sebenarnya terjadi.

Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah pun bergerak dengan melakukan serangkaian pemeriksaan, mulai dari meninjau rekaman kamera pengawas, berkomunikasi dengan orang tua siswa terkait, hingga memberikan layanan pendampingan psikologis untuk kedua anak yang terlibat.

Hasil akhir dari pemeriksaan ini menjadi rujukan bagi pihak sekolah dalam menyatakan bahwa kejadian tersebut tidak masuk dalam kategori perundungan. Perempuan berhijab ini menerangkan bahwa pokok persoalan yang diadukan terkait dengan botol minum milik siswa.

Berdasarkan bukti rekaman CCTV, menurut K, tidak ditemukan adanya siswa lain yang dengan sengaja membanting atau merusak botol minum tersebut.

"Jika merujuk dari CCTV, tampak botol minum sedang digenggam oleh anak pelapor ketika berlari. Anak tersebut kemudian terjatuh dan botolnya pun ikut terlepas. Sementara itu, anak yang disebut-sebut sebagai pelaku bullying terlihat berada di dekat loker," paparnya.

K menegaskan bahwa seluruh penjelasan ini merupakan hasil temuan yang diperoleh komite dari proses investigasi yang dilakukan pihak sekolah.

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, pihak sekolah kemudian berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Bekasi dan menyampaikan seluruh temuan mereka. Sempat terjadi kesepakatan bahwa masalah ini telah selesai setelah kedua belah pihak dipertemukan dan menjalani mediasi.

Akan tetapi, polemik tak kunjung reda di tingkat sekolah. Menurut K, pihak pelapor juga mengklaim telah melaporkan kasus ini ke Dinas Pendidikan. Selanjutnya, pada tanggal 30 Juli 2026, perkara ini diangkat dalam forum audiensi di Komisi IV DPRD Kota Bekasi.

Hasil pembahasan dalam audiensi tersebut sontak menyita perhatian para wali murid setelah berbagai informasi mengenai pertemuan itu tersebar luas melalui media sosial.

K menuturkan bahwa banyak orang tua siswa sebenarnya sudah mengetahui adanya kasus ini, namun mereka memilih untuk tidak turut campur karena menilai masalah tersebut merupakan urusan pribadi yang dapat diselesaikan secara kekeluargaan antara pihak sekolah dan orang tua siswa.

"Sebenarnya kami semua sudah mendengar adanya kasus ini. Namun, kami memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah. Lagi pula, ini masalah anak-anak, bisa jadi hanya kesalahpahaman belaka," ujarnya.

Ketegangan justru meningkat setelah akun Instagram Humas DPRD Kota Bekasi mengunggah konten yang membahas persoalan Unity School dan memunculkan isu tentang potensi pencabutan izin operasional sekolah. K menyebut unggahan tersebut hanya bertahan sekitar dua jam sebelum akhirnya dihapus.

Akan tetapi, sebelum konten tersebut dihapus, sejumlah orang tua telah menyimpan tangkapan layar dan merekam unggahan tersebut.

"Konten itu baru bertahan sekitar dua jam sebelum dihapus, tetapi sudah banyak yang mengambil screenshot. Akhirnya malah tersebar kemana-mana," ungkapnya.

Munculnya narasi ini membuat sebagian orang tua menjadi resah, mengingat Unity School mengelola jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA. Sementara, persoalan yang diangkat hanya berkaitan dengan siswa di tingkat SD.

Kecemasan ini bahkan menjalar hingga ke para siswa. K mengungkapkan bahwa sejumlah anak mulai mempertanyakan kabar penutupan sekolah kepada orang tua mereka.

"Sekarang anak-anak sudah akrab dengan media sosial. Mereka membaca sendiri bahwa sekolah terancam ditutup. Ada yang bertanya kepada orang tuanya, 'Apa benar sekolah kami mau ditutup?'," kata K.

Kondisi ini mendorong para orang tua untuk menilai bahwa masalah yang seharusnya dapat ditangani secara internal telah berkembang menjadi isu yang berdampak luas dan merugikan seluruh warga sekolah.

Unity School Galaxy sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan resmi melalui TPPK terkait hasil investigasi yang dilakukan. Tim tersebut terdiri dari konselor sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, serta koordinator kesiswaan. Proses investigasi mencakup pengecekan rekaman CCTV, komunikasi dengan orang tua siswa, serta pendampingan terhadap kedua anak. Pihak sekolah menegaskan bahwa peristiwa terjadi saat siswa sedang bermain sebelum jam pelajaran dimulai dan ketika waktu istirahat berlangsung.

Merujuk pada hasil penyelidikan tersebut, pihak sekolah menyimpulkan bahwa peristiwa yang terjadi tidak memenuhi kriteria sebagai perundungan.

Saat ini, para orang tua siswa berharap semua pihak dapat mengutamakan fakta serta hasil investigasi yang transparan agar persoalan yang melibatkan anak-anak ini tidak bertransformasi menjadi stigma negatif bagi sekolah maupun siswa.

Hingga kini, Unity School tetap konsisten pada hasil investigasi internal yang menyatakan tidak adanya unsur bullying dalam peristiwa tersebut. (gud)

Ikuti Berita Terbaru di WhatsApp Channel