Sikapi Konflik AS-Iran, Anggota DPR Minta Indonesia Tetap pada Prinsip Bebas Aktif - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Sikapi Konflik AS-Iran, Anggota DPR Minta Indonesia Tetap pada Prinsip Bebas Aktif

Bendera Indonesia di antara Bendera Iran dan Amerika Serikat. Foto: Kolase.
Prakata.com – Konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran dinilai berpotensi meluas menjadi perang regional di Timur Tengah. Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, mengingatkan agar Indonesia tetap teguh pada prinsip politik luar negeri bebas aktif serta konsisten menolak segala bentuk penjajahan.

Syahrul menegaskan bahwa sejak awal Indonesia telah menyatakan diri sebagai negara yang tidak memihak kepada blok kekuatan mana pun. Prinsip dasar tersebut, menurutnya, harus menjadi landasan dalam menyikapi ketegangan global, termasuk yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

“Indonesia adalah negara non-blok. Secara konstitusional, kita juga mengutuk penjajahan. Karena itu, kita harus melihat konflik ini secara objektif dan berlandaskan hukum internasional,” ujarnya saat mengikuti pertemuan Komisi I DPR dengan jajaran TNI di Markas Komando Daerah Militer XX Tuanku Imam Bonjol, Padang, Sumatra Barat, Jumat (6/3/2025).

Politisi Fraksi PKS itu menyoroti tidak adanya mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam aksi militer yang dilakukan AS terhadap Iran. Menurutnya, serangan tersebut tidak memiliki legitimasi internasional. Bahkan di dalam negeri AS sendiri, kata Syahrul, mulai bermunculan kritik publik yang menilai konflik ini lebih ditujukan untuk melindungi kepentingan Israel.

“Tidak ada mandat dari PBB. Itu pertanyaan besar. Publik di AS pun mulai mempertanyakan, apakah ini bukan untuk kepentingan Israel?” ungkapnya.

Ia juga mengkhawatirkan konflik ini akan berlangsung panjang, terutama setelah meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Situasi tersebut, menurutnya, dapat mendorong respons militer yang lebih masif dari Iran terhadap kepentingan AS di kawasan Teluk.

“Iran tidak tinggal diam. Mereka melancarkan serangan balasan, termasuk ke pangkalan militer AS. Ini menunjukkan potensi konflik melebar,” katanya.

Terkait keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri, Syahrul memastikan pemerintah telah memiliki prosedur tetap. Ia menyebut Kementerian Luar Negeri telah menyiapkan langkah-langkah darurat, termasuk koordinasi dengan KBRI setempat dan kemungkinan evakuasi jika situasi memburuk.

“Sudah ada SOP. WNI diimbau selalu berkoordinasi dengan perwakilan RI di negara masing-masing,” jelasnya.

Lebih jauh, Syahrul menilai konflik ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian nasional. Ia mencontohkan ketahanan Iran yang mampu bertahan meskipun dihadapkan pada embargo berkepanjangan.

“Iran diembargo puluhan tahun, tapi tetap eksis. Mereka bahkan mampu memproduksi alutsista sendiri yang membuat dunia terkejut,” ujarnya.

Menurut Syahrul, ada tiga sektor utama yang harus dikuasai negara demi memperkuat ketahanan nasional, yaitu pangan, farmasi (obat-obatan), dan industri pertahanan.

“Jika suatu negara bisa memproduksi kebutuhan pangan, obat-obatan, dan alat pertahanan sendiri, maka negara itu akan kuat dan sulit diintervensi,” tutupnya. (man/aha/zen)