![]() |
| Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat memberikan keterangan kepada awak media. |
Pengembangan kawasan yang mengusung konsep ramah transportasi publik ini akan menyatukan kawasan pemukiman, pusat perbelanjaan, serta berbagai fasilitas umum yang terhubung langsung dengan Stasiun Bekasi melalui akses jembatan layang (skybridge). Langkah ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan kemacetan yang selama ini menghantui kawasan penyangga ibu kota.
Upacara groundbreaking tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Wakil Menteri Perhubungan Irjen Pol (Purn) Suntana, Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk Adrianto P. Adhi, serta Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe.
Dalam sambutannya, Menko AHY menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara pemerintah pusat, daerah, dan pengembang swasta. Ia berharap kawasan TOD di Bekasi ini dapat menjadi patokan keberhasilan bagi pengembangan kawasan perkotaan di wilayah penyangga metropolitan lainnya.
"Kami sangat mendukung penuh pengembangan Transit-Oriented Development di lokasi ini. Summarecon telah berkomitmen membangun stasiun kereta ekstensi di Kota Bekasi. Kami berharap proyek ini bisa menjadi model percontohan bagi kota-kota lain di Indonesia," ujar AHY dalam pidatonya.
Mantan Menteri ATR/BPN itu menegaskan bahwa kebutuhan akan kawasan terintegrasi di kawasan Jabodetabek semakin mendesak seiring dengan lonjakan urbanisasi yang terus terjadi. Menurutnya, penataan ruang yang efisien akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengurangan beban ekonomi akibat kemacetan.
"Ketika sebuah kawasan mampu menghubungkan tempat tinggal dengan tempat kerja, pusat pendidikan, area bisnis, hingga fasilitas kesehatan secara terpadu, maka kualitas hidup masyarakat otomatis meningkat. Kemacetan bisa ditekan, waktu produktif bertambah, dan kesehatan warga lebih terjaga berkat lingkungan yang hijau dan terencana," jelas AHY.
Ia juga menginstruksikan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan, yakni 18 bulan pasca-groundbreaking.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe mengungkapkan kegembiraannya atas dimulainya proyek strategis ini. Menurutnya, konsep hunian vertikal yang terintegrasi dengan moda transportasi massal merupakan visi tata ruang yang telah lama diimpikan oleh Pemerintah Kota Bekasi.
"Bagi kami, ini adalah sebuah kebanggaan sekaligus jawaban atas keinginan kami sejak awal. Dengan adanya TOD, interaksi sosial masyarakat akan lebih efektif. Warga bisa berangkat dan pulang kerja dengan cepat, sehingga waktu berkualitas bersama keluarga menjadi lebih banyak," tutur Bobihoe.
Lebih lanjut, Bobihoe menegaskan bahwa kolaborasi transportasi ini tidak hanya menyasar kalangan komuter, tetapi juga harus memberikan dampak berantai positif terhadap perekonomian warga setempat. Pemkot Bekasi akan menyiapkan ruang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar terlibat aktif dalam ekosistem kawasan baru ini.
"Efek berganda dari pembangunan ini harus dirasakan hingga sektor ekonomi akar rumput. Kami akan memastikan UMKM mendapatkan tempat di kawasan stasiun ini. Ke depan, kami juga akan mengkaji titik-titik lain yang potensial untuk dikembangkan dengan konsep serupa, tentunya dengan tetap memperhatikan tata ruang agar manfaat jangka panjangnya benar-benar optimal bagi masyarakat," pungkasnya. (gud)


