![]() |
| Ruang Komisi IV DPRD Kota Bekasi, lokasi pelaksanaan audiensi dugaan bullying Unity School. |
Audiensi yang digelar di Ruang Rapat Komisi IV DPRD Kota Bekasi tersebut melibatkan sejumlah anggota dewan. Wildan Fathurrahman selaku Wakil Ketua Komisi IV bertindak sebagai ketua rapat saat itu. Turut hadir pula Ketua Komisi IV Adelia, Sekretaris Komisi IV R. Eko Setyo Pramono, serta anggota Komisi IV lainnya yakni Tanti Herawati, Alimudin, Anim Imaduddin, Ahmadi, dan Misbahudin selaku Anggota Komisi IV sekaligus suami dari pelapor.
Selain anggota Komisi IV, audiensi tersebut juga dihadiri oleh pihak Unity School, Dinas Pendidikan, DP3A, dan KPAD Kota Bekasi. Dalam rapat itu, Misbahudin mendesak evaluasi terhadap kepala sekolah hingga ancaman peninjauan ulang izin operasional Unity School.
Namun, hasil investigasi yang melibatkan analisis rekaman CCTV dan asesmen Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) justru menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut bukan merupakan tindakan perundungan. Rekaman CCTV tidak menunjukkan adanya kontak fisik yang menyebabkan botol minum milik anak pelapor jatuh.
Sikap Bungkam Pejabat
Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, yang juga merupakan Sekretaris DPD Partai Gerindra Jawa Barat, memilih bungkam ketika ditanya soal polemik yang melibatkan Misbahudin. Saat ditemui usai kegiatan Pesona Nusantara Bekasi Keren (PNBK) Jilid III di Plaza Patriot Candrabhaga pada Minggu (30/8/2026), ia hanya melambaikan tangan sambil tersenyum.
“Nggak, nggak...,” kata Abdul Harris Bobihoe sambil dadah-dadah dan tetap tersenyum.
Sikap diam tersebut menarik perhatian mengingat posisi Misbahudin sebagai Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Bekasi dan disebut-sebut sebagai kandidat kuat Ketua DPC Gerindra Kota Bekasi selanjutnya.
Komentar Orang Tua Siswa
Sementara itu, sejumlah orang tua siswa Unity School menyatakan keberatan terhadap isu perundungan yang mencuat. Mereka menilai persoalan antara siswa seharusnya diselesaikan melalui mekanisme internal sekolah dan tidak perlu berkembang menjadi persoalan di luar lingkungan pendidikan.
Salah seorang orang tua yang diwawancarai mengaku pernah mengalami persoalan serupa dengan pihak yang sama beberapa tahun sebelumnya. Ia menyebut anaknya pernah dituduh melakukan tindakan kekerasan terhadap teman, tetapi tuduhan tersebut tidak terbukti. Menurutnya, persoalan tersebut berdampak terhadap kondisi psikologis anaknya karena muncul pembicaraan di antara orang tua murid, dan anaknya sempat dikucilkan oleh sejumlah teman.
Orang tua lainnya menyoroti dampak meluas dari pemberitaan mengenai dugaan perundungan terhadap para siswa Unity School. Mereka khawatir munculnya citra negatif terhadap sekolah dapat memengaruhi psikologis siswa serta reputasi lulusan ketika melanjutkan pendidikan.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada pernyataan terbuka dari anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi yang sebelumnya mendorong rekomendasi evaluasi terhadap sekolah. Ketiadaan penjelasan tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai dasar rekomendasi yang sempat disampaikan dan sejauh mana pertanggungjawaban politik atas kegaduhan yang telah terjadi. (gud)
Ikuti Berita Terbaru di WhatsApp Channel


