‎Lestari Moerdijat Soroti Kesenjangan Pengelolaan Museum Nasional dan Daerah - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

‎Lestari Moerdijat Soroti Kesenjangan Pengelolaan Museum Nasional dan Daerah

Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, berbicara dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja Perlindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya.
Prakata.com – Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, menyoroti masih besarnya perbedaan kualitas pengelolaan antara Museum Nasional dan museum-museum yang ada di daerah. Ia mendorong Museum Nasional untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun jejaring dan ekosistem permuseuman nasional, khususnya guna meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pengelola museum di daerah.
‎Menurut Lestari, transformasi yang tengah berlangsung di Museum Nasional sudah menunjukkan kemajuan yang positif. Namun, kemajuan itu perlu ditularkan ke daerah agar peningkatan kualitas museum bisa terjadi secara merata.
‎“Kesenjangan antara museum nasional dengan museum di daerah itu sangat besar. Bagaimana dalam konteks sekarang kawan-kawan di pusat, dalam hal ini mungkin di museum nasional, ini mungkin tanggung jawab kita bersama dan ini juga catatan yang mungkin nanti masuk di dalam rekomendasi kita,” ujar Lestari dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja Perlindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya Komisi X DPR RI di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
‎Lestari menilai salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah kemampuan SDM pengelola museum daerah. Keterbatasan tersebut, menurutnya, dapat mempengaruhi kemampuan daerah dalam mengelola anggaran revitalisasi hingga menyusun tata pamer dan narasi museum yang berkualitas.
‎“Nah, saya tidak tahu bagaimana. Saya tadi bisik-bisik dengan teman-teman karena tidak ada dari pejabat, dari Kementerian, tapi mungkin nanti bisa disampaikan agar museum nasional bisa mengambil peran untuk membangun sebuah ekosistem permuseuman di Indonesia. Dan kemampuan para pengelola museum yang ada di pusat dengan di daerah itu jauh sekali,” katanya.
‎Ia mencontohkan persoalan yang ditemuinya pada pengelolaan museum di daerah pemilihannya. Menurutnya, ketika daerah memperoleh dukungan anggaran, keterbatasan pemahaman pengelola dapat menyebabkan revitalisasi lebih diarahkan pada pembangunan fisik dibandingkan penguatan substansi museum, termasuk tata pamer dan narasi.
‎Karena itu, Lestari menilai mekanisme pendampingan dari institusi yang memiliki kapasitas, termasuk Indonesian Heritage Agency, perlu diperkuat. Pendampingan tersebut dinilai penting agar pemerintah daerah mampu merancang pengembangan museum sesuai kebutuhan dan kaidah pengelolaan yang tepat.
‎“Usulan untuk membentuk jejaring, saya kira nanti ini akan menjadi salah satu usulan yang akan disampaikan,” ungkap Politisi Fraksi Partai NasDem tersebut.
‎Selain penguatan jejaring, Lestari mendorong komunitas dan media ikut mengambil peran dalam menjaga museum dan situs cagar budaya. Perhatian media, menurutnya, dapat membangun kesadaran masyarakat sekaligus mendorong pemerintah daerah meningkatkan pengawasan terhadap situs-situs yang rawan pencurian maupun perdagangan benda bersejarah secara ilegal.
‎“Paling tidak kalau media sudah mulai ikut berbicara di situs-situs tertentu, ada awareness dari masyarakat, dari pemerintah daerah, paling tidak kita juga bisa menjaga atau melakukan pengamanan sebelum kita mampu melakukan tindakan-tindakan yang lebih komprehensif lainnya,” pungkasnya. (gal/uc/rtm)

Ikuti Berita Terbaru di WhatsApp Channel