![]() |
| Anggota DPRD Kota Bekasi, Adhika Dirgantara, saat menjaring aspirasi dari warga dalam reses di Pekayon, Bekasi Selatan. |
Hal ini terungkap dalam kegiatan reses atau jaring aspirasi warga oleh Anggota DPRD Kota Bekasi dari Fraksi PKS, Adhika Dirgantara, Rabu (8/7/2026).
Aspirasi itu disuarakan langsung oleh tokoh perempuan setempat, Endang, yang juga Koordinator Gerakan Jumat Berkah Perumahan Damar Pekayon.
"Selama tanggul tidak diperbaiki, selama itu pula kami dihantui banjir tinggi. Ini sangat traumatik dan melelahkan," ujarnya dengan nada keras di hadapan warga dan anggota dewan.
"Setiap kali ada info waspada Kali Bekasi, kami selalu was-was. Kami sudah sangat trauma," tambah Endang, mewakili keresahan warga yang setiap tahun menghadapi ancaman luapan sungai.
Menanggapi keluhan tersebut, Adhika Dirgantara menjelaskan bahwa DPRD bersama Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) serta Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) telah berkali-kali menggelar rapat.
Bahkan, pihaknya bersama BBWSCC sudah pernah menyusuri Kali Bekasi untuk melihat langsung kondisi tanggul yang memprihatinkan.
Adhika menyampaikan bahwa anggaran untuk revitalisasi Kali Bekasi sebenarnya sudah disiapkan oleh Kementerian PUPR. Namun, pembangunan fisik tertahan karena masalah status tanah di pinggiran Kali Bekasi yang masih belum jelas.
"Kendala utama ada di tanah. Statusnya masih belum clear. Ini adalah ranah BPN untuk menyelesaikannya," tegas Adhika.
Ia menyayangkan lambatnya penyelesaian oleh BPN yang terkesan dibiarkan berlarut-larut tanpa kejelasan.
"Kita mohon pada BPN Kota Bekasi untuk menyelesaikan permasalahan tanah tanggul Kali Bekasi ini dengan segera. Ini demi kepentingan masyarakat luas. Ayolah kita kerja bareng. Masalah tanah clear, insya Allah penanggulan Kali Bekasi bisa berlanjut," pintanya.
Adhika berjanji akan terus menyuarakan penyelesaian tanggul Kali Bekasi agar persoalan banjir di Bekasi Selatan bisa tertangani. Janji perbaikan tanggul sendiri sudah berulang kali diucapkan, namun warga masih menanti realisasi di lapangan. (gud)


