Babinsa Masih Kekurangan Motor Dinas dan Anggaran, Komisi I DPR Soroti Kesejahteraan TNI - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Babinsa Masih Kekurangan Motor Dinas dan Anggaran, Komisi I DPR Soroti Kesejahteraan TNI

Anggota Komisi I DPR RI Taufiq R. Abdullah, saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi I DPR RI ke Kodim 0709/Kebumen, Kebumen, Jawa Tengah, Jumat (12/6/2026).
Prakata.com – Anggota Komisi I DPR RI, Taufiq R. Abdullah, menyampaikan perlunya perhatian serius terhadap peningkatan kesejahteraan prajurit TNI, terutama bagi Bintara Pembina Desa (Babinsa). Hal ini ia ungkapkan saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi I DPR RI ke Kodim 0709/Kebumen, Jawa Tengah, pada Jumat (12/6/2026). Menurutnya, isu kesejahteraan prajurit merupakan salah satu agenda strategis yang terus diperjuangkan DPR guna menunjang tugas pertahanan negara.

Dalam kunjungan tersebut, selain mengulas permasalahan aset TNI di wilayah Urutsewu, Komisi I DPR juga mendalami berbagai program TNI yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan personel di lapangan. Salah satu poin utama yang menjadi sorotan adalah upaya peningkatan kesejahteraan anggota.

"Tentu karena kita berkunjung ke sini, banyak hal yang menjadi diskusi. Ini juga terkait program nasional TNI, bahwa salah satu yang utama adalah bagaimana ada upaya untuk meningkatkan kesejahteraan anggota," ujar Taufiq.

Ia menambahkan bahwa kesejahteraan prajurit menjadi isu sentral yang terus menjadi perhatian DPR. Pasalnya, prajurit yang mendapatkan dukungan kesejahteraan serta fasilitas memadai akan lebih maksimal dalam menjalankan tugas pembinaan teritorial maupun pengamanan wilayah.

"Kesejahteraan TNI menjadi isu sentral di DPR dan juga di TNI yang terus kami perjuangkan. Alhamdulillah di sini sudah lumayan," katanya.

Namun demikian, Taufiq mengakui masih terdapat sejumlah kebutuhan dasar yang belum terpenuhi secara merata, khususnya bagi para Babinsa yang menjadi garda terdepan TNI AD di tingkat desa. Salah satu kendala utama adalah belum semua Babinsa mendapatkan kendaraan operasional berupa sepeda motor dinas.

"Tetapi menyangkut fasilitas yang dibutuhkan oleh tentara, misalnya Babinsa kita itu belum semuanya mendapatkan sepeda motor. Harapannya, semua Babinsa harus mendapat sepeda motor dinas agar mereka lebih nyaman dalam bekerja," ungkapnya.

Selain soal kendaraan dinas, Komisi I DPR juga menemukan fakta bahwa belum seluruh desa di wilayah Kodim 0709/Kebumen memiliki Babinsa definitif. Dari sekitar 460 desa, baru sekitar 330 desa yang telah memiliki Babinsa dengan surat keputusan resmi penugasan.

"Belum juga semua desa terisi Babinsa. Dari 460 desa, baru sekitar 330 yang punya skep. Artinya mereka resmi sebagai anggota Babinsa," jelas Taufiq.

Meski begitu, ia mengapresiasi inisiatif kreatif jajaran komando di daerah yang tetap menjalankan fungsi pembinaan teritorial. Menurutnya, sejumlah personel tetap melaksanakan tugas Babinsa berdasarkan surat perintah dari komandan, meskipun belum memiliki penugasan definitif.

"Alhamdulillah, ada kreativitas dari komandan agar fungsi-fungsi Babinsa tetap bisa dilakukan, caranya dengan surat perintah dari komandan untuk menjalankan fungsi Babinsa," tuturnya.

Namun, kondisi ini memunculkan persoalan lain karena personel yang bertugas hanya berdasarkan surat perintah tidak memperoleh dukungan operasional yang memadai. Akibatnya, pelaksanaan tugas di lapangan kerap tidak didukung anggaran seperti halnya Babinsa yang sudah memiliki surat keputusan resmi.

"Persoalannya adalah mereka bisa bekerja, tetapi dukungan operasional tidak ada. Anggarannya tidak tersedia. Yang terpenuhi anggarannya baru sekitar 330, jadi masih kurang 130," kata legislator Fraksi PKB tersebut.

Lebih lanjut, Taufiq mengungkapkan bahwa keterbatasan fasilitas tidak hanya dialami Babinsa, tetapi juga menyangkut kebutuhan personel Kodim secara keseluruhan. Dari total sekitar 605 personel yang bertugas, ketersediaan fasilitas pendukung operasional baru mencapai sekitar 50 persen lebih sedikit.

"Kalau bicara fasilitas secara keseluruhan, jumlah personel kita 605. Sementara fasilitas untuk mereka bekerja baru sekitar 50 persen lebih sedikit. Jadi ini menjadi temuan kami, bahwa fasilitas yang juga menyangkut kesejahteraan ini memang belum bisa terpenuhi sepenuhnya," pungkasnya. (MRI/um/rtm)