![]() |
| Rasa syukur warga Bintara Jaya akan dihentikannya proyek polder air yang dianggap merusak lingkungan sekitar. Ilustrasi. |
Prakata.com – Rasa syukur disampaikan warga Perumahan Bintara Jaya Permai (BJP), Kelurahan Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat, menyusul dihentikannya rencana pembangunan polder air di lahan fasilitas umum (fasum) RT 01 RW 11 di wilayah mereka.
Dwi, seorang ibu warga setempat yang mewakili 18 kepala keluarga yang menolak proyek tersebut, mengungkapkan kegembiraannya. Ke-18 warga ini tinggal berdekatan dengan lahan fasum yang rencananya akan dibangun polder.
"Kita happy, senang kalau ini tidak jadi dikerjakan. Tinggal kita mikirin bagaimana ini agar pemerintah mau merapihkan lagi lingkungan fasum yang rusak itu," ujar Dwi kepada wartawan, Jumat (24/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa ke-18 warga kecewa dengan sosialisasi yang pernah dilakukan sebelumnya. Pasalnya, gambar perencanaan yang disodorkan tidak sesuai dengan harapan warga.
“Awalnya kita hampir setuju tuh dulu, tapi kok kemudian gambarnya berubah dari yang dulu ditunjukkan ke kita makanya kita tidak setuju,” kisahnya.
Dwi mengungkapkan, berdasarkan pesan dari Wali Kota Bekasi, pembangunan polder air di depan permukiman warga harus memperhatikan estetika dan jarak yang memadai.
"Kata pak wali, polder ini tidak akan bisa jalan jika tidak disetujui 18 warga kita," tuturnya.
Sejak pembangunan dihentikan, Dwi mengaku pihak dinas terkait belum pernah datang lagi untuk berdialog. Upaya komunikasi yang dilakukan warga pun tidak mendapat respons.
"Saya kirim pesan WhatsApp, saya telponin juga tidak mau respon, tidak mau balas," keluhnya.
Menurut Dwi, penghentian proyek ini patut disyukuri karena dampak pembangunan polder bersifat jangka panjang. "Karena sekali dibuat ini kan puluhan tahun, tidak tahu apa yang akan terjadi," ucapnya.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa warga yang menolak kini mendapat tekanan dari warga lain yang mendukung proyek tersebut. "Akibatnya sekarang yaitu kita dijutekin sama warga lain. Yaudahlah kita membela hak kita. Mereka yang setuju kan tidak terdampak langsung dengan keberadaan pembangunan polder air," tegasnya.
Ia menambahkan, lokasi polder direncanakan hanya berjarak sekitar empat meter dari pagar rumah warga. Saat ini, kondisi lapangan basket yang berada di lahan fasum tersebut hancur karena terbengkalai. "Aspalnya sudah ilang, parah sih," ujar Bu Dwi.
Menengok ke belakang, Dwi menerawang bahwa pada September 2025 lalu, warga masih bisa melakukan kegiatan senam pertemuan arisan RT 01 di lokasi tersebut. Namun mulai November 2025, fasum mulai dibongkar. Anaknya pun tidak bisa lagi bermain bola di lahan yang dikelilingi sembilan rumah itu.
Dengan alasan pencegahan banjir, pelebaran aliran sungai kecil yang menjadi bottle neck menuju Banjir Kanal Timur (BKT) dinilai lebih efektif untuk membebaskan wilayah sekitar dari genangan banjir. Apalagi Pemkot Bekasi dianggap cukup dekat untuk berkoordinasi dengan Pemprov DKI Jakarta.
“Harapan 18 warga adalah agar fasum yang rusak segera dikembalikan menjadi fasilitas umum yang baik, ramah lingkungan, asri, dan manusiawi,” pungkasnya. (Gud)


