Bukan Zamannya Sikap Abu-Abu, Indonesia Harus Tegas Hadapi Konflik Global - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Bukan Zamannya Sikap Abu-Abu, Indonesia Harus Tegas Hadapi Konflik Global

Bendera Indonesia di antara Bendera Iran dan Amerika Serikat. Foto: Kolase.
Prakata.com – Alumnus Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Heru Budi Wasesa, menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi memiliki ruang untuk bersikap abu-abu dalam merespons dinamika konflik global, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, keseimbangan dunia saat ini menuntut setiap negara untuk mengambil posisi yang jelas.

"Perang adalah bagian dari keseimbangan. Jagad raya ini memiliki mekanisme keseimbangan. Jika tidak ada keseimbangan, justru akan menuju kepunahan. Ada medan positif, ada medan negatif. Jika keduanya berada dalam satu poros yang sama, maka keseimbangan rusak dan kehancuranlah yang akan terjadi," ujar Heru dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa hukum keseimbangan alam semesta bersifat baku. Jika saat ini medan negatif yang terdorong, maka di lain kesempatan medan positif yang akan bergerak. "Yang pasti, tidak akan bisa positif dan negatif bersatu karena akan merusak keseimbangan. Jadi, sudah bukan jamannya di era sekarang menjadi abu-abu. Lebih banyak ruginya," tegasnya.

Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) Universitas Patria Artha yang juga Ketua Alumni Unhan RI ke-3 ini menyoroti nasib negara-negara yang tergabung dalam Gerakan Non-Blok. Menurutnya, sikap non-blok di masa lalu perlu dikaji ulang di tengah realitas geopolitik saat ini.

"Coba lihat beberapa nasib negara non-blok sekarang bagaimana. Dahulu kita berpikir mungkin setelah Pakta Warsawa dibubarkan, Perang Dingin akan selesai dan tidak ada ancaman perang. Tapi yang terjadi, Rusia saat ini justru lebih kuat dibanding zaman Uni Soviet dulu, dan China saat ini bukanlah China yang dulu. Artinya, keseimbangan itu tetap terjadi dan berlanjut," paparnya.

Ia menambahkan bahwa kehadiran blok-blok baru seperti BRICS juga menjadi indikasi terbentuknya kutub-kutub kekuatan baru. "BRICS adalah sebuah blok juga. Apapun alasannya sebatas soal ekonomi dan dagang, tetapi tetap saja tidak pernah luput dari kepentingan keamanan dan pertahanan untuk melindungi kepentingan kelompoknya," imbuh Heru. (Gud)