Board of Peace Vs Pusaran Perang, Menjadi Kontradiktif atau Malah Realitas? - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Board of Peace Vs Pusaran Perang, Menjadi Kontradiktif atau Malah Realitas?

Heru Budi Wasesa, SE., M.Si. Han.
Oleh: Heru Budi Wasesa, SE., M.Si. Han
(*) Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) Universitas Patria Artha, Inisiator Garuda 8 Nuswantara, Ketua Alumni Universitas Pertahanan (Unhan) RI ke-3

DALAM hitungan tiga bulan terakhir, Amerika Serikat telah menorehkan catatan geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dua tokoh kharismatik dari dua negara yang selama ini dikenal vokal melawan hegemoni Barat—Venezuela dan Iran—tumbang dalam situasi yang masih menyisakan tanda tanya besar. Di saat yang sama, di kawasan kita, Amerika membentuk board of peace atau papan perdamaian, dan Indonesia menjadi bagian di dalamnya. Sebuah kontradiksi yang nyata, ataukah ini memang wajah asli dari realitas politik internasional?

Di tengah situasi global yang memanas, banyak suara mengingatkan kita untuk berhati-hati. Namun, menurut saya, frasa "hati-hati" terasa usang ketika kita sudah tidak lagi berada di tepian, melainkan "nyemplung" ke pusaran. Kita dipaksa untuk ambil bagian. Ironisnya, nasihat untuk "mandiri" agar tidak bernasib seperti Iran atau Venezuela justru perlu kita kaji ulang. Bukankah justru karena mereka mandiri dan berdiri tegak di jalur perlawanan, mereka menjadi target?

Di sinilah letak paradoks yang harus kita cerna. Jika kemandirian diartikan sebagai oposisi terbuka, risikonya bisa sangat mahal. Namun jika kita larut dalam arus tanpa kewaspadaan, kita kehilangan jati diri. Maka, tidak ada pilihan lain selain menerima kenyataan bahwa kita terpaksa dan dipaksa untuk "nyemplung". Pertanyaannya bukan lagi "ikut atau tidak", melainkan "bagaimana caranya berenang sambil tetap menggenggam air minum di tangan". Bagaimana kita bisa melewati badai ini dengan tetap utuh, aman, damai, dan yang terpenting, rakyat sejahtera. Everybody happy.

Konflik antara Iran melawan AS dan Israel bukanlah perang konvensional semata. Ini adalah pertarungan pengaruh, sumber daya, dan ideology. Ketika pesawat nirawak melesat di langit Teheran atau ketika blokade ekonomi mencekik rakyat Venezuela, kita menyaksikan bagaimana sebuah bangsa bisa dijungkirbalikkan tanpa perlu invasi besar-besaran seperti era Perang Dunia.

Lalu, di mana posisi Indonesia?

Sebagai negara yang ikut serta dalam board of peace yang digagas AS, kita berada di persimpangan jalan. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton yang ikut bertepuk tangan, tanpa memahami skenario besar yang sedang berlangsung. Di sinilah kita membutuhkan ahli-ahli strategi yang mampu melihat celah dan peluang di sela-sela prahara. Sejarah membuktikan, selalu ada manfaat di balik kehancuran jika kita cerdas membaca arah angin. Kita harus tahu alasan sesungguhnya dari perang ini. Apakah ini semata-mata soal keamanan Israel, soal minyak, soal hegemony, atau soal mempertahankan supremasi mata uang dunia? Dari jawaban itulah kita bisa memetakan langkah selanjutnya.

Pada akhirnya, kita harus memilih. Kiri atau kanan, depan atau belakang, atas atau bawah. Setiap pilihan dalam politik internasional adalah taruhan. Dan saat ini, masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di meja perundingan yang mungkin tidak pernah kita minta untuk duduk di sana. Ini akan menguji kecakapan pemimpin kita. Apakah mereka mampu membaca realitas tanpa kehilangan prinsip? Apakah mereka bisa bersikap adaptif tanpa terkesan plin-plan?

Satu hal yang pasti, di tengah riuh rendah kabar duka dari Timur Tengah, kita sering bertanya-tanya tentang narasi yang disajikan. Ungkapan mana yang lebih tepat menggambarkan akhir dari seorang tokoh besar? Apakah "gugur" yang sarat makna perjuangan, "raib" yang penuh misteri, ataukah sekadar "is gone" yang dingin dan tanpa emosi?

Semoga kita semua, bangsa ini, para pemimpinnya, dan kita semua yang peduli berada di jalan yang benar. Jalan yang mengutamakan kepentingan rakyat di tengah hiruk-pikuk perang dua kutub raksasa dunia. (*)