![]() |
| Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Pesepakbola Dunia, Ronaldo (kiri) selaku duta mangrove dari Forum Peduli Mangrove (FPM) Bali. |
Prakata.com – Heru Budi Wasesa, mantan pengurus Jaringan Nusantara, tegas membela Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari berbagai tuduhan yang disebutnya tidak mendasar, termasuk keterkaitan di balik kericuhan isu ijazah Presiden RI ke-7, Joko Widodo.
Dalam pernyataannya, Heru menegaskan bahwa SBY bukanlah
figur yang "murahan" dan gemar mencampuri urusan politik secara tidak
kesatria. Ia menyampaikan sejumlah contoh untuk
membuktikan sikap SBY yang menurutnya konsisten tidak ikut campur.
"Kita ingat, pertama SBY jadi presiden, kayak korupsi
siapa yang masuk penjara? Aulia Pohan. Lalu siapa Aulia Pohan? Apakah SBY
cawe-cawe?" ujarnya, kepada
Prakata.com, Sabtu (10/1/2026).
Dapat diketahui, Aulia
Pohan sendiri adalah mantan
Deputi Gubernur Bank Indonesia yang merupakan besan dari SBY. Lebih lanjut, Heru menyoroti periode Pilpres 2014 ketika Prabowo
Subianto, sahabat SBY, berselisih dan terjadi aksi demontrasi
besar.
"SBY sebagai sahabat dan presiden berkuasa saat itu,
apakah SBY cawe-cawe?" tanyanya retoris.
Ia juga mengungkit momen akhir kepemimpinan SBY, ketika ada
desakan kuat dari masyarakat, termasuk dari dirinya sendiri, agar Ibu Ani
Yudhoyono maju sebagai calon presiden. Namun, SBY tidak menyetujuinya meski sarana
dan prasarana mendukung.
"Hal ini saya sampaikan untuk jelaskan SBY bukan
murahan yang suka cawe-cawe yang tidak kesatria," tegas Heru.
Merespons isu yang mengaitkan SBY dengan berbagai hal,
seperti pernyataan Roy Suryo, Heru menyindirnya sebagai "ilmu
cocoklogi". Ia mempertanyakan logika jika ada pejabat atau menteri dari
sebuah partai yang korup, lantas dapat dikaitkan dengan ketua partainya.
"Bagaimana dengan para pejabat atau menteri dari sebuah
partai misalnya korup atau lainnya, apakah bisa dikaitkan dengan ketua partai?
Atau petinggi lainnya?" ucapnya.
Heru juga mengkritik fokus publik yang menurutnya tidak
produktif. "Kita ini aneh kayaknya sudah bangsa maju punya rangking di
dunia. Tapi negara lain sedang mikirin bagaimana bersaing dan kalau bisa kuasai
negara lain, dan kita masih ribut soal ijazah. Ajaib," ujarnya.
Ia menyimpulkan bahwa SBY tidak perlu memberi panggung
kepada para "penyinyir" tersebut. "Jadi kawan-kawan SBY ngapain
kasih panggung para penyinyir ini. Bukan kelasnya," kata Heru.
Ia juga berpendapat bahwa Presiden Prabowo Subianto dengan akses intelijen yang lengkap
mungkin telah mengetahui siapa sesungguhnya yang bermain di balik berbagai isu yang dihembuskan tersebut.
Heru menutup pernyataannya dengan menyayangkan masih adanya
'keusilan' terhadap figur seperti SBY yang telah menjadi 'begawan' dan banyak
memberi masukan bagi bangsa. "Orang sudah begawan, melukis, memberi masukan bangsa, masih aja ada
yang usil. Mending pikirin dampak perang terbuka efeknya bagi Indonesia,"
pungkasnya. (Gud)


