![]() |
| Aktivis perempuan alumni GMNI, Nyimas Sakuntala Dewi (NSD). |
Aktivis Perempuan Alumni GMNI
SERINGKALI dunia luar hanya melihat santri sebagai anak-anak yang sibuk menghafal kitab di balik tembok pondok. Padahal di balik kesederhanaan itu, tersimpan sebuah proses pembentukan jiwa yang luar biasa, yang sejak lama menjadi salah satu fondasi terkuat bangsa ini.
Di pesantren, seorang santri belajar lebih dari sekadar ilmu agama. Mereka belajar bangun sebelum fajar menyingsing, berbagi makanan sederhana dengan teman yang jumlahnya banyak, mandiri mengurus kebutuhan sendiri, dan hidup berdampingan dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang orang tua. Anak pejabat duduk di sebelah anak petani, semua tidur di ruangan yang sama, makan dari nampan yang sama. Di sana tidak ada keistimewaan karena status, yang dihormati adalah keilmuan dan akhlak yang tulus. Inilah sekolah kehidupan yang tak tertulis di kurikulum mana pun, tapi membentuk karakter yang bertahan seumur hidup.
Ilmu yang mereka pelajari pun bukan sekadar dibaca lalu dilupakan. Mereka melihat langsung bagaimana seorang guru bersikap saat marah, saat berbicara dengan orang biasa, saat menghadapi kesulitan. Ilmu itu hidup dalam keseharian, sehingga ketika mereka melangkah keluar ke dunia luas, yang mereka bawa bukan hanya pengetahuan, tapi keteladanan.
Sejak masa lalu hingga hari ini, jejak santri telah tertulis di berbagai halaman penting sejarah bangsa kita.
Di masa-masa sulit kemerdekaan, KH. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, mengeluarkan Resolusi Jihad yang menggerakkan rakyat mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan. Tanpa langkah beliau, mungkin sejarah perjuangan kita berbeda. Ada juga KH. Zainal Mustafa, ulama dari Singaparna yang berani menolak penjajah dan gugur dengan teguh pada prinsipnya. Dari pesantren yang sederhana, tekad mereka menjalar menjadi kekuatan yang menjaga negeri ini tetap berdiri.
Banyak yang belum tahu, Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional kita, pun pernah menuntut ilmu di pesantren. Semangat kemerdekaan jiwa yang beliau ajarkan berakar dari nilai-nilai yang ditanamkan di sana. Begitu juga R.A. Kartini, yang belajar tentang keadilan dan kemanusiaan dari ulama setempat, semangatnya untuk memajukan perempuan lahir juga dari nilai-nilai keimanan yang beliau pelajari.
Hingga masa kini, jejak itu terus berlanjut. Tokoh-tokoh yang mengabdi di pemerintahan seperti Nasaruddin Umar, Saifullah Yusuf, Muhaimin Iskandar, dan Raja Juli Antoni, semuanya adalah alumni pesantren. Mereka membawa pola hidup sederhana, disiplin, dan kepekaan sosial yang dididik di lingkungan santri ke dalam pengelolaan negara. Tak hanya di pemerintahan, di bidang sosial pun ada Mar'atun Sholihah yang membangun Kampung Zakat untuk memberdayakan masyarakat, dan Hayun Halimatul Umah yang mengharumkan nama bangsa di kancah internasional sebagai Duta Santri Nasional.
Semua kisah ini mengajarkan satu hal yang sederhana: pesantren tidak melahirkan orang yang menjauh dari dunia. Ia melahirkan orang-orang yang tidak mudah tergoda oleh dunia, sehingga bebas membangun dunia yang lebih baik. Kesederhanaan bukan kelemahan, justru dari sanalah lahir kekuatan yang tak mudah goyah.
Menjadi santri berarti belajar bahwa kemuliaan bukan diukur dari seberapa tinggi kedudukan yang diraih, tetapi seberapa banyak kebaikan yang ditinggalkan untuk sesama. Bahwa seseorang bisa hidup sederhana namun bermimpi besar, berdiri di tempat yang rendah namun mampu menaungi banyak orang. Itulah kekuatan sejati yang ditanamkan pesantren, kekuatan yang lahir dari ketulusan, bertahan dalam kebenaran, dan abadi dalam kebaikan.
Selamat Hari Santri Nasional.❤️❤️❤️
Merdeka!!!
22 oktober 2026
Bantaran Kalimalang, Kota Patriot Bekasi.
Ikuti Berita Terbaru di WhatsApp Channel


