Perang Baratayudha Pemberantasan Korupsi, Pengamat Nilai Rakyat Harus Jadi Pemenang - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Perang Baratayudha Pemberantasan Korupsi, Pengamat Nilai Rakyat Harus Jadi Pemenang

Penanganan dugaan kasus koupsi oleh para aparat penegak hukum di Indonesia. Gambar: Ilustrasi.
Prakata.com - Pengamat Politik dan Pemerintahan lulusan Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Heru Budi Wasesa, memberikan tanggapan tajam terkait penggeledahan Cafe de'Clan Signatur milik petinggi Kejaksaan Agung oleh polisi, Rabu (8/7/2026). Ia menyebut situasi ini sebagai "Perang Baratayudha" dalam pemberantasan korupsi yang melibatkan tiga pilar penegak hukum.

Heru menilai, penggeledahan yang dilakukan Kortastipidkor Polri dan Polda Metro Jaya terhadap kafe di Cilandak Tengah yang dikaitkan dengan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, menunjukkan indikasi kuat adanya konflik internal di antara aparat penegak hukum. Kondisi ini diperkuat dengan penjagaan ketat rumah Febrie oleh puluhan prajurit TNI bersenjata laras panjang pada malam yang sama.

"Siapa pun yang hancur dalam pemberantasan korupsi, rakyat yang harus menang. Hal seperti ini sudah diprediksi," ujar Heru, Rabu (8/7/2026) malam.

Ia menyoroti ironi ketika tiga unsur kekuatan hukum yakni Polisi, Kejaksaan, dan Kehakiman yang saling terlibat dalam kasus korupsi masif. "Apakah rakyat masih percaya? Lalu bagaimana siapa menangkap siapa dan siapa mengadili siapa?" tegasnya.

Heru mengungkapkan bahwa puncak gedung bundar (Kejaksaan Agung) mulai tercium bau korupsi, padahal selama ini Presiden menaruh harapan besar pada kinerja lembaga tersebut. Ia mencontohkan, berkali-kali gedung bundar memamerkan hasil sitaan uang kertas, namun kini justru petingginya sendiri yang kafenya digeledah polisi terkait kasus PT Asabri, suap batu bara penyebab blackout di Sumatera, dan PT Krakatau Steel.

Menariknya, Heru mengemukakan teori unik dalam merespons situasi ini. "Ada teori dalam perang untuk melawan iblis tidak bisa pakai malaikat, harus sesama mereka karena malaikat tidak mau masuk ke dalam ruang iblis. Jika teori ini digunakan oleh pemimpin tertinggi bangsa ini, maka beliau orang cerdas," katanya merujuk pada Presiden Prabowo Subianto.

Namun, ia mengingatkan satu hal yang harus dipegang teguh. "Siapapun yang hancur, pemenangnya haruslah rakyat. Bravo Pak Prabowo, Presiden harus berani," ujarnya dengan tegas.

Heru juga mengimbau masyarakat agar tidak hanyut dengan teori konspirasi yang menganggap ini perang politik. "Tidak. Apapun teorinya, yang penting saling berantas korupsi untuk kepentingan rakyat," katanya.

Ia memberikan analogi tentang praktik suap dan upeti, di mana pemberi dan penerima suap saling memperkarakan. "Orang yang menyogok akhirnya diperkarakan oleh yang menerima. Apa mereka menerima? Mereka pasti melawan dengan berbagai cara. Selanjutnya orang yang menerima sogokan lalu setor ke atas, apa mau menerima jika istilahnya dikorbankan? Biarlah mereka saling bernyanyi bak paduan suara, semoga rakyat senang mendengarnya," pungkas Heru.

Sebagaimana diketahui, penggeledahan Cafe de'Clan Signatur di Jalan Cilandak Tengah dilakukan penyidik Kortastipidkor Polri dan Polda Metro Jaya pada Rabu (8/7/2026). Kepala Kortastipidkor Polri Irjen Totok Suharyanto menjelaskan, penggeledahan ini berkaitan dengan kasus korupsi, TPPU, dan suap di perkara PT Asabri, kasus pasokan batu bara penyebab blackout di Sumatera, serta kasus PT Krakatau Steel. Total delapan lokasi digeledah termasuk kafe tersebut dan Poin Money Changer.

Pasca-penggeledahan, rumah mewah Febrie Adriansyah di Jalan Radio, Kramat Pela, Jakarta Selatan, dijaga lebih dari satu regu TNI bersenjata laras panjang. Jaksa dari Jampidsus juga tampak berseliweran di dalam gerbang menggunakan seragam korsa merah.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto meminta semua pihak menghormati proses hukum dan mengingatkan bahwa menghalangi penyidikan dapat diproses dengan Pasal 21 UU Tindak Pidana Korupsi.

Peristiwa ini mengingatkan pada kasus serupa pada 19 Mei 2024, ketika Febrie juga diuntit personel Densus 88 Polri di kafe yang dulu bernama Gontran Cherrier saat sedang makan malam. (gud)