Pansus Parkir DKI Desak Pengawasan Berbasis AI untuk Cegah Kebocoran PAD - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Pansus Parkir DKI Desak Pengawasan Berbasis AI untuk Cegah Kebocoran PAD

Ketua Pansus Tata Kelola Perparkiran DPRD DKI Jakarta, Jupiter.
Prakata.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta melalui Panitia Khusus (Pansus) Tata Kelola Perparkiran mendesak Pemerintah Provinsi untuk segera memperkuat sistem pengawasan perparkiran dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Langkah ini dinilai krusial guna menutup celah kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang masih berpotensi terjadi.

Ketua Pansus Tata Kelola Perparkiran DPRD DKI Jakarta, Jupiter, menyampaikan apresiasinya atas upaya Dinas Perhubungan yang telah mengimplementasikan sistem pembayaran parkir secara digital. Namun, menurutnya, terobosan tersebut belum cukup optimal untuk menjamin seluruh penerimaan masuk ke kas daerah.

"Kami menghargai apa yang sudah dilakukan Dishub, tetapi digitalisasi pembayaran saja tidak cukup. Masih diperlukan pengawasan yang lebih kuat," tegas Jupiter usai melakukan inspeksi ke Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Dishub DKI dan Pusdatin DPMPTSP DKI pada Selasa (21/7/2026).

DPRD pun mendorong terciptanya ekosistem perparkiran yang terintegrasi penuh. Sistem tersebut harus menyatukan berbagai komponen penting, mulai dari data perizinan, catatan operasional parkir, transaksi elektronik, pemantauan CCTV, penerapan Electronic Automatic Identification (EAI), hingga pengawasan berbasis AI dalam satu platform yang saling terhubung.

Jupiter menegaskan bahwa setiap rupiah yang bersumber dari masyarakat wajib dikelola dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas. "Teknologi harus menjadi alat untuk memastikan tidak ada lagi kebocoran. Selain itu, kita juga ingin menghadirkan layanan parkir yang modern, tertib, dan bisa dipercaya oleh warga," ujarnya.

Legislator tersebut menilai bahwa sistem pembayaran digital yang belum didukung oleh mekanisme pengawasan yang mumpuni masih menyisakan risiko. Tanpa pengawasan yang akurat, tidak ada jaminan bahwa seluruh transaksi terekam dengan baik. Padahal, hal ini tidak hanya berpengaruh pada peningkatan PAD, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat.

"Sebuah sistem yang baik harus memberikan kepastian, transparansi, dan akuntabilitas," tambahnya.

Lebih lanjut, Jupiter menjelaskan bahwa integrasi antara CCTV dan teknologi AI akan memungkinkan pemerintah menghitung secara otomatis jumlah kendaraan yang keluar-masuk di setiap titik parkir. Data tersebut selanjutnya bisa dicocokkan secara langsung (real time) dengan transaksi yang tercatat di sistem pembayaran elektronik. Dengan demikian, setiap perbedaan angka atau potensi penyelewengan dapat terdeteksi lebih awal.

"Dengan AI, pemerintah bisa memantau tingkat okupansi atau ketersediaan tempat parkir secara otomatis. Pengawasan tidak akan lagi bergantung penuh pada laporan petugas di lapangan, melainkan didukung oleh data yang objektif dan bisa dipertanggungjawabkan," paparnya.

Jupiter juga menyoroti kelemahan pada sistem pembayaran digital yang berjalan saat ini. Ia menemukan bahwa mekanisme tersebut masih sangat bergantung pada inisiatif juru parkir untuk mengoperasikan aplikasi melalui perangkat genggam masing-masing. Kondisi ini dinilai masih menyisakan celah bagi terjadinya transaksi tunai yang tidak pernah masuk ke dalam sistem.

"Selama masih ada ruang untuk transaksi di luar sistem, potensi kebocoran pendapatan daerah tetap mengintai. Karena itu, kita harus segera membangun sistem yang bisa mengurangi ketergantungan pada faktor manusia dan memperkuat pengawasan berbasis teknologi," pungkas Jupiter. (rtm)