‎Ini Rahasia di Balik Aroma Gas yang 'Sengaja Dibuat Tidak Enak' - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

‎Ini Rahasia di Balik Aroma Gas yang 'Sengaja Dibuat Tidak Enak'

‎Area Head Bekasi PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. Liestya Heryani Devi, saat memberikan sambutan dalam acara media mini gathering, Sabtu (25/7/2026).
Prakata.com - Aroma menyengat yang biasa tercium dari gas ternyata menyimpan rahasia. Bau gas yang tidak sedap dan menyengat sebenarnya sengaja diciptakan sebagai 'tanda bahaya' untuk mencegah ledakan. Berikut ini penjelasan ilmiahnya.
‎Area Head Bekasi PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. Liestya Heryani Devi, mengungkapkan fakta bahwa bahan bakar gas memang sengaja dibuat tidak enak. Ia memberikan penjelasan ilmiah yang mengejutkan. Menurutnya, gas bumi yang keluar dari sumur pengeboran (drilling) pada dasarnya tidak berbau (odorless).
‎Justru karena tidak berbaulah, PGN dan perusahaan gas di seluruh dunia menyuntikkan zat kimia khusus yang disebut odorant atau zat pembau ke dalam aliran gas.
‎"Kami berikan zat pembau odorant, yang menyengat dan gak enak, supaya pelanggan aware bahwa ini bau gas. Jadi ketika terjadi kebocoran harus waspada," tegas Liestya, dalam kegiatan Media Mini Gathering Sahabat SOR II di wilayah Bogor, Sabtu (25/7/2026).
‎Logikanya sederhana namun krusial: "Kalau baunya enak, malah pelanggan akan membiarkan bau itu terjadi," tambahnya. Dengan aroma yang menusuk hidung, kebocoran sekecil apa pun akan segera terdeteksi oleh indra penciuman manusia, menjadi alarm alami pertama sebelum terjadi ledakan.
‎Liestya juga menjelaskan perbedaan mendasar antara gas yang disalurkan PGN melalui pipa (gas bumi) dengan tabung elpiji biru yang biasa kita kenal. PGN (Gas Pipa) mengandung Metana (CH4), sementara Elpiji mengandung Propana (C3) dan Butana (C4) .
‎Perbedaan ini sangat vital terkait keselamatan. Metana memiliki sifat lebih ringan dari udara dengan berat jenis 0,6-0,7. Artinya, jika terjadi kebocoran, gas metana akan cepat menguap dan naik ke atas (menyebar ke atmosfer), sehingga risiko terakumulasi di dalam ruangan lebih rendah. Sementara propana dan butana lebih berat, sehingga cenderung mengendap di bawah dan lebih berisiko jika terkena percikan api.
‎Zat pembau yang digunakan PGN disebut Tetra Hidro Tiophene (THT). THT adalah senyawa organosulfur yang memiliki aroma sangat tajam dan tidak sedap. Zat ini ditambahkan pada proses hulu (sebelum gas didistribusikan ke pelanggan) dan merupakan jenis zat pembau yang diizinkan secara regulasi untuk gas bakar.
‎"Banyak jenis pembau yang memang diijinkan untuk gas bakar. Salah satunya yang kami gunakan adalah THT," jelas Liestya mengutip standar industri. THT adalah cairan yang mudah menguap dan stabil, menjadikannya pilihan ideal sebagai "tanda bahaya" kebocoran gas.
‎Meski bau gas memicu kepanikan, Liestya menekankan bahwa bau tidak selalu berarti ledakan. Terjadinya ledakan atau kebakaran membutuhkan pemenuhan Segitiga Api (Fire Triangle), yaitu pertama Bahan Bakar, misalnya danya gas yang bocor, kedua Oksigen (O2), dan ketiga Sumber Api/Panas seperti percikan api, korek api, atau bunga api listrik.
‎"Tidak akan ada ledakan tanpa adanya segitiga api, yaitu bahan bakar (bensin, gas), pemercik api, dan oksigen (O2)," tegas Liestya. Tanpa salah satu elemen tersebut, ledakan tidak akan terjadi. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menyepelekan bau gas dan segera melapor ke PGN untuk penanganan lebih lanjut. (gud)

Ikuti Berita Terbaru di WhatsApp Channel