![]() |
| Dr. Heru Budi Wasesa MSi. Han. |
Prakata.com - Pengamat geopolitik internasional, Heru Budi Wasesa, mendorong Pemerintah Indonesia untuk menarik pasukan perdamaian dari Lebanon serta mengakhiri keikutsertaan dalam Board of Peace (BoP). Dorongan ini disampaikan menyusul rentetan insiden yang dinilai membahayakan personel di lapangan dan tidak sejalan dengan prinsip kedaulatan bangsa.
Pengamat lulusan Universitas Pertahanan (Unhan) RI ini menyoroti inkonsistensi peran Indonesia di kancah internasional, terutama terkait perjuangan kemerdekaan Palestina. Menurutnya, tujuan awal bergabung dalam mekanisme tersebut adalah untuk memperjuangkan kepentingan bangsa-bangsa yang belum merdeka dan berdaulat.
"Pertanyaannya, mengapa Palestina belum bisa dianggap merdeka dan berdaulat padahal hampir seluruh negara di PBB sepakat? Apa yang menghalangi? Apakah karena hak veto? Lalu siapa pemilik hak veto yang belum sepakat Palestina merdeka secara utuh?" ujar Budi di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Ia menilai, alih-alih berjuang secara maksimal di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), justru dibentuk mekanisme Board of Peace yang dipimpin oleh negara pemilik hak veto tersebut bersama Israel secara sepihak, tanpa melibatkan Palestina.
Kekhawatiran semakin menguat setelah personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon dilaporkan mendapat serangan dari pihak Israel.
"Belum genap 30 hari kita bergabung, beberapa personel pasukan perdamaian kita dihantam oleh Israel, yang notabene adalah salah satu anggota BoP bersama kita. Apakah Israel tidak tahu? Suatu hal yang sangat mustahil. Kalau pemimpin Iran saja mereka bisa mendeteksi di tempat tersembunyi," tegasnya.
Inisiator Garuda 8 Nuswantara ini juga menekankan bahwa meskipun pasukan Indonesia di UNIFIL memiliki mandat untuk melindungi diri (force protection) dan tidak diperbolehkan menyerang, bukan berarti tidak memiliki hak untuk menarik diri sebagai bentuk protes dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.
"Sudah saatnya kita tunjukkan, jika kita harimau tunjukkan taring kita, jika kita garuda kepakan sayap kita. Kecuali jika kita hanya kucing atau merpati peliharaan,"
"Sudah saatnya kita pikirkan dalam negeri kita, dalam memperkuat daya saing dan kemandirian. Donald Trump baru saja nyatakan 'America First Again' artinya kembali mendahulukan kepentingan internalnya. Kita jangan terjebak," tegas Wasesa. (Gud)


