![]() |
| Ketua Lembaga Sertifikasi Person Pilar Pendidikan dan Pelatihan Indonesia (LSP-PPPI), R. Iwan Rahmat Leksonoputra. |
Prakata.com – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh konflik berkepanjangan dan tekanan ekonomi yang semakin berat, perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah tahun ini dinilai menjadi momentum yang tepat untuk mengedepankan nilai kesederhanaan.
Sikap ini tidak hanya menjadi cerminan kedewasaan spiritual, tetapi juga bentuk kepedulian sosial terhadap sesama yang sedang mengalami kesulitan.
Ketua Lembaga Sertifikasi Person Pilar Pendidikan dan Pelatihan Indonesia (LSP-PPPI), R. Iwan Rahmat Leksonoputra, mengimbau masyarakat untuk kembali memaknai hakikat Lebaran.
Menurutnya, esensi dari kemenangan setelah sebulan berpuasa bukan terletak pada kemegahan atau kemewahan dalam merayakan, melainkan pada kualitas hubungan antarmanusia dan pengendalian diri.
"Fokus kita haruslah pada hal-hal yang substantif, yaitu kemenangan spiritual dan penguatan silaturahmi. Dengan mengalihkan perhatian dari konsumsi berlebihan, stabilitas keuangan keluarga tetap terjaga dan ibadah di hari raya pun terasa lebih khidmat," ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Untuk mewujudkan perayaan yang bermakna di tengah situasi yang penuh tantangan, Raden Iwan menawarkan beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan oleh masyarakat.
Pertama, mengutamakan zakat dan sedekah sebagai bentuk solidaritas tertinggi kepada mereka yang paling terdampak oleh perang dan krisis ekonomi. Kedua, menyajikan hidangan Lebaran dalam porsi yang wajar guna menghindari pemborosan makanan.
Selain itu, ia juga menyarankan untuk tidak menjadikan pakaian baru sebagai sebuah keharusan. Mengenakan busana terbaik yang telah dimiliki adalah praktik yang sesuai dengan sunnah dan tetap memberikan kesan istimewa.
Yang terakhir, mempererat silaturahmi dengan ketulusan, di mana kualitas interaksi dan saling memaafkan menjadi inti utama, bukan kemewahan dekorasi atau mahalnya bingkisan. (Gud)


