![]() |
| Wakil Ketua DMI Kabupaten Bekasi, KH Ahmad Syauqi LC, M.Pd. |
(*) Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) dan Wakil Ketua DMI Kabupaten Bekasi
SETIAP kita
adalah hamba yang diciptakan dengan tujuan yang sangat jelas, yaitu untuk
beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya, tidaklah Allah menciptakan
jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Nya (QS: 51; 56). Maka seluruh
potensi, umur, dan kesempatan hidup yang kita miliki adalah amanah untuk
mendekatkan diri kepada-Nya.
Ramadan hadir sebagai bulan yang mengingatkan kembali tujuan
penciptaan tersebut. Di bulan yang penuh rahmat ini, setiap amal kebaikan
dilipatgandakan pahalanya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi
juga menjadi sarana untuk memperbanyak ibadah dan memperbaiki kualitas
penghambaan kita kepada Allah SWT.
Di antara ajaran Rasulullah SAW yang sangat luar biasa
adalah sabda beliau bahwa setiap persendian dalam tubuh manusia memiliki hak
untuk disedekahkan setiap pagi (HR. Muslim no. 1007). Artinya, ketika kita
bangun sahur dan Allah masih memberikan kesempatan hidup, seluruh anggota tubuh
kita memiliki hak yang harus kita tunaikan.
Bagaimana cara menunaikan sedekah tersebut? Nabi SAW
menjelaskan bahwa setiap tasbih adalah sedekah. Setiap ucapan “Subhanallah”
bernilai sedekah. Setiap tahmid, “Alhamdulillah”, adalah sedekah. Setiap
tahlil, “La ilaha illallah”, adalah sedekah. Dan setiap takbir, “Allahu Akbar”,
juga merupakan sedekah di sisi Allah SWT.
Bayangkan jika zikir-zikir itu kita amalkan di bulan
Ramadan. Ketika pahala dilipatgandakan, maka sedekah dari setiap persendian
kita pun menjadi berlipat ganda nilainya. Lisan yang ringan berzikir akan
menjadi sangat berat dalam timbangan kebaikan.
Ramadan juga dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an
dan di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu
bulan. Maka memperbanyak zikir di bulan ini bukan hanya menunaikan hak
persendian, tetapi juga bagian dari upaya kita meraih keberkahan malam-malam
mulia tersebut.
Sering kali kita fokus pada ibadah besar seperti tarawih,
tadarus, dan i’tikaf, namun melupakan kekuatan zikir harian. Padahal zikir
adalah amalan yang dapat dilakukan kapan saja—saat berjalan, saat bekerja, saat
menunggu berbuka, bahkan saat beristirahat. Ramadan memberi ruang luas untuk
menghidupkan lisan dengan kalimat-kalimat thayyibah.
Ketika kita berzikir, hati menjadi tenang. Allah SWT
menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Di bulan
Ramadan, ketenangan hati inilah yang akan membantu kita menjaga puasa, menahan
amarah, dan menghindari perkataan sia-sia.
Setiap pagi di bulan Ramadan adalah kesempatan baru. Setiap
sahur adalah tanda bahwa Allah masih memberikan umur dan peluang untuk beramal.
Maka jangan biarkan pagi berlalu tanpa tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir
sebagai sedekah bagi persendian kita.
Ramadan adalah bulan latihan. Jika di bulan ini kita mampu
istiqamah berzikir dan menjaga lisan, maka setelah Ramadan pun kita akan lebih
mudah melanjutkannya. Persendian kita terbiasa dalam ketaatan, hati kita
terbiasa dalam dzikrullah.
Umur yang sampai kepada Ramadan bukanlah hal yang biasa.
Banyak orang yang tahun lalu bersama kita, kini sudah tidak lagi memiliki
kesempatan itu. Maka gunakan Ramadan ini untuk memaksimalkan setiap potensi
yang Allah berikan.
Semoga setiap persendian kita menjadi saksi bahwa di bulan Ramadan kita telah menunaikan haknya dengan zikir dan kebaikan. Semoga puasa kita diterima, zikir kita dicatat sebagai sedekah, dan kita termasuk hamba-hamba yang mendapatkan ampunan serta keberkahan Ramadan. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)


