Madrasah Ruhani Ramadan, Melatih Jiwa agar Tak Lekang oleh Puji dan Hina - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Madrasah Ruhani Ramadan, Melatih Jiwa agar Tak Lekang oleh Puji dan Hina

Sekertaris MUI Kabupaten Bekasi, KH Ahmad Sanukri.
Oleh: KH Ahmad Sanukri (*)

(*) Sekertaris MUI Kabupaten Bekasi.

IBADAH puasa di bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan madrasah ruhani untuk melatih sabar dan ikhlas. Dua amalan hati ini menjadi kunci diterimanya ibadah dan meningkatnya derajat seorang hamba di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

1. Implementasi Sabar dalam Puasa Ramadan. 

a. Sabar dalam Menjalankan Ketaatan. 

Puasa adalah perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

(QS. Al-Baqarah: 183).

Ayat ini menunjukkan bahwa puasa adalah kewajiban yang membutuhkan kesabaran dalam menunaikannya secara konsisten selama sebulan penuh.

Allah juga berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan disempurnakan pahala mereka tanpa batas."

(QS. Az-Zumar: 10).

Puasa melatih kita untuk bersabar dalam ketaatan, seperti bangun sahur, menahan diri hingga waktu maghrib, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, melaksanakan shalat tarawih, dan berbagai amal saleh lainnya.

b. Sabar Menahan Diri dari Maksiat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Puasa adalah perisai. Maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika seseorang memerangi atau mencacinya, hendaklah ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’"

(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa adalah latihan kesabaran dalam mengendalikan emosi, menjaga lisan, dan menahan hawa nafsu.

c. Sabar Menghadapi Ujian. 

Lapar, haus, lelah, bahkan godaan untuk berbuka sebelum waktunya adalah bentuk ujian dalam berpuasa. Namun di situlah nilai kesabaran dibentuk. Dalam puasa, seorang mukmin belajar menahan diri bukan karena tidak mampu, tetapi karena ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Implementasi Ikhlas dalam Puasa Ramadan. 

Ikhlas berarti memurnikan niat hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karena ingin dipuji atau sekadar mengikuti tradisi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."

(QS. Al-Bayyinah: 5)

Dalam hadits qudsi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan keistimewaan puasa karena ia adalah ibadah yang sangat tersembunyi. Orang lain tidak mengetahui secara pasti apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak. Karena itu, puasa sangat erat kaitannya dengan keikhlasan.

3. Bentuk Nyata Sabar dan Ikhlas dalam Kehidupan Sehari-hari. 

Beberapa bentuk implementasi sabar dan ikhlas dalam kehidupan sehari-hari antara lain:

  • Menjaga niat sejak sahur hingga berbuka hanya untuk mengharap ridha Allah.
  • Menahan amarah dan menjaga lisan meskipun dalam keadaan lelah atau emosi.
  • Tetap berbuat baik walaupun sedang lapar dan haus.
  • Memperbanyak ibadah secara diam-diam tanpa perlu diumumkan kepada orang lain.
  • Tidak mengeluh secara berlebihan karena menyadari bahwa semua itu adalah ladang pahala.

Puasa Ramadan adalah sekolah kesabaran dan keikhlasan. Jika sabar melatih ketahanan diri, maka ikhlas memurnikan hati. Keduanya menjadikan puasa bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi sarana untuk meraih derajat takwa.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang sabar dan ikhlas dalam menjalankan ibadah puasa, serta menerima seluruh amal ibadah kita.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu 'alam bish-shawab. (*)