![]() |
| Heru Budi Wasesa, SE., M.Si. Han. |
(*) Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) Universitas Patria Artha, Inisiator Garuda 8 Nuswantara, Ketua Alumni Universitas Pertahanan (Unhan) RI ke-3.
AKSI Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump
terhadap Venezuela bukanlah langkah sembrono tanpa kalkulasi. Peringatan AS
terkait perdagangan narkoba hanyalah salah satu sisi dari koin yang jauh lebih
kompleks. Secara geografis, Venezuela terletak di “halaman belakang” AS.
Posisinya menjadikannya apa yang dalam istilah geopolitik disebut “enemy at the
gates” ancaman di pintu pagar sendiri. Analoginya mirip dengan cara Rusia
memandang Ukraina, meski pendekatan penanganannya berbeda.
AS, dengan pembelajaran dari pengalaman panjang seperti di
Vietnam, telah menginternalisasi doktrin operasi yang cepat, tepat sasaran, dan
berbiaya efektif. Penangkapan Nicolás Maduro dan penyitaan aset strategis
seperti ladang minyaknya menunjukkan keahlian itu. Langkah ini juga tidak
terlepas dari konteks tekanan ekonomi internal AS yang memerlukan terobosan.
Dalam dunia geopolitik, ketika “preman dunia” mengalami kantong kempes,
tindakannya bisa menjadi sangat pragmatis dan tak terduga.
Venezuela selama ini bersandar pada dukungan Rusia, terutama
untuk alat utama sistem pertahanan (alutsista). Namun, AS tampaknya membaca
dengan cermat bahwa ancaman perang terbuka antara kekuatan besar seperti AS,
Rusia, dan China adalah sebuah ilusi yang terlalu mahal. Dunia telah
menyaksikan betapa perang di Ukraina menguras sumber daya Rusia. China, dengan
ekonomi yang sedang tumbuh, jelas lebih memilih jalur diplomasi daripada
konfrontasi militer yang berisiko. Inilah yang membuat intervensi AS di Venezuela
berjalan relatif mulus, tanpa hambatan militer terbuka dari Moskow atau
Beijing.
Ada pelajaran kontras yang menarik antara kasus Venezuela
dan Ukraina. Rusia gagal menangkap Volodymyr Zelenskyy, sementara AS dengan
gerakan cepatnya berhasil melumpuhkan kepemimpinan Maduro. Yang lebih
mencengangkan, respons rakyat Venezuela justru cenderung pada penerimaan,
bahkan euphoria. Fenomena ini mengingatkan kita pada sifat pragmatis rakyat di
mana pun: mereka peduli pada manfaat yang dirasakan, bukan sekadar ideologi
atau identitas pemimpin.
Alasan mendasar AS bukan sekadar narkoba atau minyak,
melainkan posisi strategis Venezuela sebagai “enemy at the gates”. Bagi AS,
membiarkan kekuatan yang berseberangan bercokol di dekatnya adalah kerentanan
strategis yang tidak bisa ditolerir, sebagaimana Ukraina bagi Rusia. Langkah
Trump ini sekaligus adalah ujian bagi kekuatan besar lain: sejauh mana mereka
akan bereaksi? Diamnya mereka mengukuhkan satu pesan: negara adidaya itu
tetaplah Amerika Serikat.
Banyak spekulasi dan teori konspirasi bermunculan, seperti
adanya negosiasi terselubung antara Maduro dan AS untuk penyelamatan diri
dengan imbalan sumber daya. Terlepas dari benar tidaknya, yang terlihat adalah
sebuah tindakan yang terukur dan matang. AS sedang menunjukkan, sekali lagi,
siapa yang masih memegang kendali dalam tata kelola kekuatan global.
Kekhawatiran banyak pihak akan eskalasi menjadi perang
terbuka skala besar antara AS-Rusia-China pasca-Venezuela, menurut saya, adalah
kekhawatiran yang berlebihan. Perang konvensional terbuka di era modern tidak
akan menghasilkan pemenang sejati, hanya kehancuran bersama yang dampaknya
global. Rusia sudah terkuras di Ukraina, China fokus pada ekspansi ekonomi, dan
AS sendiri menghadapi batas-batas kritis anggaran serta utang. Semua pihak
punya alasan kuat untuk menghindari jurang tersebut.
Serangan Rusia ke Ukraina justru menjadi yurisprudensi yang
dimanfaatkan AS. Konflik AS-Venezuela yang telah berlangsung lama menemukan
momentum puncaknya pada 2026 ini dengan pertimbangan yang sangat hati-hati. AS
memanfaatkan momentum di mana rival-rivalnya sedang dalam posisi tidak ingin
atau tidak mampu melakukan konfrontasi langsung.
Bagi kita di Indonesia, ada pelajaran berharga. Diplomasi
bebas-aktif harus benar-benar dijalankan dengan prinsip “berdiri sama tinggi,
duduk sama rendah”. Kita tidak perlu merasa paling benar atau paling hebat.
Azasnya adalah manfaat dan ketenteraman bagi bangsa. Jika kita konsisten
sebagai negara non-blok, maka konsistensi itu harus dijaga, tanpa terperangkap
dalam blok-blok baru yang justru membatasi ruang gerak. Kebebasan untuk
berdagang dan berdiplomasi dengan siapa pun adalah landasan terkuat dalam dunia
yang semakin tak terduga.
Aksi AS di Venezuela adalah sebuah studi kasus sempurna
tentang bagaimana kekuatan adidaya bertindak ketika merasa terancam di pintunya
sendiri, memanfaatkan kelemahan rival, dan menghitung setiap langkah dalam
papan catur geopolitik yang rumit. Ini bukan tentang baik atau buruk secara
moral, melainkan tentang realpolitik dalam bentuknya yang paling telanjang. Dan
dalam episode ini, AS sekali lagi menunjukkan keahliannya dalam permainan itu.
(*)
Ikuti Berita Terbaru di WhatsApp Channel


