![]() |
| Cahaya pohon Natal raksasa kembali menyinari Manger Square di kota Betlehem. Foto: Reuters. |
Seperti dikutip dari Reuters, ribuan warga Palestina, baik
dari Tepi Barat maupun Israel memenuhi alun-alun kota yang dihormati sebagai
tempat kelahiran Yesus tersebut. Sorak-sorai pecah ketika lampu-lampu pohon
menyala, mengusik kesunyian yang telah lama menyelimuti kota itu.
"Kami datang untuk merayakan, menonton, dan menikmati,
karena selama beberapa tahun kami tidak punya kesempatan itu," ujar Randa
Bsoul (67), seorang warga Palestina dari Haifa, yang turut hadir.
Kehadiran pohon Natal itu bagai oase di tengah kepedihan.
Konflik di Gaza, yang berjarak sekitar 60 km dari Betlehem, telah menimbulkan
korban jiwa yang sangat besar dan kehancuran yang parah. Dampaknya merambat
hingga ke Tepi Barat, melumpuhkan sektor pariwisata yang menjadi nadi ekonomi
Betlehem dan menimbulkan duka mendalam bagi banyak keluarga yang memiliki
kerabat di Gaza.
Dua tahun terakhir digambarkan "seperti neraka"
oleh seorang pemilik toko suvenir di Betlehem yang meminta anonim karena
kekhawatiran akan pembalasan. "Kami berusaha sekuat tenaga untuk tetap
bertahan," katanya, menyoroti memburuknya kondisi ekonomi dan mengencangnya
pembatasan pergerakan warga oleh otoritas Israel.
Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober,
ketidakpastian dan ketegangan masih membayangi. Perayaan kali ini pun
diselenggarakan dengan khidmat; tidak ada kembang api yang biasanya
menyertainya, sebagai bentuk penghormatan terhadap situasi yang masih rapuh.
"Ini menakutkan karena tidak ada yang tahu apa yang
akan terjadi di masa depan. Tapi kami tetap berharap," tutur Bsoul,
mengungkapkan perasaan campur aduk yang mungkin mewakili banyak warga.


