![]() |
| Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa, saat meninjau kawasan pertanian di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (15/10/2025). |
Menurut Saan, masalah utama yang membelit petani Indonesia
seringkali bukan terletak pada kemampuan produksi, melainkan pada mahalnya
biaya distribusi akibat infrastruktur yang buruk.
“Infrastruktur bukan sekadar proyek pembangunan jalan, tapi
penentu nasib petani dan harga pangan. Jalan yang rusak membuat ongkos angkut
membengkak. Imbasnya, harga jual komoditas di tingkat petani rendah, sementara
harga di pasar malah tinggi,” papar politisi Fraksi Partai NasDem tersebut.
Ia menggambarkan realita di sejumlah lumbung pangan Sumatera
Selatan, seperti Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Musi Banyuasin. Kerusakan
jalan yang parah disebutnya memangkas efisiensi logistik. “Mobil angkut yang
seharusnya bisa bolak-balik sepuluh kali dalam sehari, kini hanya bisa lima
kali. Ini langsung menekan harga jual petani dan mengerek harga di pasar,”
ujarnya.
Data pendukung memperkuat pernyataan tersebut. Biaya
logistik sektor pertanian di Indonesia masih menyentuh 25–30 persen dari total
biaya produksi, jauh lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Vietnam yang hanya
10–15 persen. Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum mencatat 43 persen
jalan produksi pertanian nasional masih dalam kondisi rusak.
Oleh karena itu, Saan menekankan bahwa pembenahan
infrastruktur harus dipandang sebagai bagian integral dari sistem ketahanan
pangan nasional. DPR dan pemerintah akan memperkuat sinergi lintas kementerian
untuk memastikan konektivitas dari lahan ke pasar berjalan lancar.
“Membangun infrastruktur pertanian sama artinya dengan
membangun kedaulatan pangan bangsa. Jika jalan bagus, air lancar, dan pupuk
tersedia, petani akan untung. Jika petani untung, pangan kita stabil,”
tandasnya.


