| Foto bersama usai penandatanganan MoU dan Launching Program Penguatan Bank Sampah berbasis UMKM Versi 2.0. |
"Meski demikian, tantangan masih besar. Hanya 7% UMKM
yang terhubung dengan rantai pasok domestik, dan 4,1% yang masuk ke global
value chain. Kontribusi ekspor UMKM Indonesia masih 15,7%, jauh di bawah
Singapura (41%) dan Thailand (29%)," ungkap Shinta dalam acara tersebut,
Senin (4/8/2025).
Apindo mengusung konsep G.R.O.W (Grit, Resilience,
Opportunity, Win Together) untuk mendorong UMKM naik kelas. Shinta
menegaskan, dukungan terhadap UMKM harus melibatkan seluruh pihak dalam
ekosistem "Indonesia Incorporated", yaitu kolaborasi antara pemerintah,
korporasi, akademisi, dan masyarakat.
APINDO Expo & UMKM Fair 2025 bukan sekadar pameran, tapi
bukti nyata bahwa UMKM adalah aktor utama transformasi ekonomi. Produk mereka
punya kualitas, cerita, dan daya saing untuk pasar global," tegasnya.
Ketua Bidang UMKM dan Koperasi Apindo, Ronald Walla,
menyatakan bahwa Apindo berperan sebagai enabler dan advokator
bagi UMKM.
"Kami tidak hanya memberi panggung, tapi juga
memperjuangkan kebijakan yang berpihak dan kemitraan berkeadilan. Tujuannya,
UMKM bisa lebih inovatif, terhubung, dan mandiri," ujar Ronald.
Sementara itu, Ning Wahyu Astutik, Ketua DPP Apindo Jawa
Barat, menambahkan bahwa acara ini menjadi jembatan strategis antara pelaku
usaha, masyarakat, dan pemerintah.
"Kegiatan ini sejalan dengan agenda pembangunan ekonomi
inklusif. Kolaborasi swasta-publik bisa ciptakan lapangan kerja, tingkatkan
daya saing UMKM, dan dorong pertumbuhan ekonomi daerah," jelas Ning.
APINDO Expo & UMKM Fair 2025 menjadi wadah bagi ribuan
pelaku UMKM untuk bertemu dengan pengusaha besar, investor, dan pemangku
kebijakan.
"Ini saatnya UMKM jadi bagian penting peta ekonomi baru
Indonesia. Mari bangun jejaring, perluas peluang, dan wujudkan kebangkitan UMKM
bersama Apindo," tutup Ronald.

