![]() |
| Logo Hari Keuangan Nasional ke-80 Tahun 2026. |
Tepat hari ini, Jumat, 30 Oktober 2026, Indonesia
memperingati 80 tahun peristiwa yang menjadi fondasi kedaulatan ekonomi bangsa:
penerbitan Oeang Republik Indonesia (ORI) . Bagi sebagian orang, tanggal ini
mungkin hanya berlalu begitu saja. Padahal, di baliknya ada kisah perjuangan
luar biasa yang menentukan apakah Indonesia layak disebut sebagai negara
merdeka atau tidak.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia tidak
serta-merta memiliki alat pembayaran sendiri. Kondisi ekonomi saat itu sangat
pelik. Di masyarakat, uang peninggalan Hindia Belanda, uang pendudukan Jepang,
dan uang De Javasche Bank beredar bersamaan dengan nilai yang berbeda-beda.
Lebih parahnya lagi, Belanda yang datang membonceng Sekutu
melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration) dengan sengaja
mengedarkan uang NICA. Langkah ini bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan
strategi politik untuk menggoyang kedaulatan Republik yang baru berdiri.
Menyadari hal itu, pemerintah tidak tinggal diam. Melalui
Menteri Keuangan saat itu, Sjafruddin Prawiranegara, diputuskanlah untuk
menerbitkan mata uang sendiri. Meski menghadapi keterbatasan dana, tenaga ahli,
hingga ancaman militer Belanda, pencetakan ORI tetap diupayakan, bahkan sempat
dipindahkan ke Yogyakarta saat situasi Jakarta memanas.
Puncaknya, pada malam 29 Oktober 1946, Wakil Presiden
Mohammad Hatta berpidato melalui RRI untuk mengumumkan bahwa mulai pukul 00.00
tanggal 30 Oktober 1946, ORI resmi menjadi satu-satunya alat pembayaran yang
sah di wilayah Republik Indonesia.
Memasuki usia ke-80, peringatan Hari Keuangan Nasional 2026
mengusung tema yang sangat relevan dengan kondisi geopolitik dan ekonomi global
saat ini: "Indonesia Berdaulat, APBN Kuat".
Tema ini bukan sekadar slogan. Di tengah ketidakpastian
ekonomi dunia, pesan utamanya adalah bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya
dijaga oleh alutsista di perbatasan, tetapi juga oleh kesehatan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). APBN yang kuat, kredibel, dan akuntabel
adalah benteng agar kebijakan negara tidak mudah diintervensi oleh kepentingan
asing.
Berbagai kegiatan biasanya mewarnai peringatan HORI di
lingkungan Kementerian Keuangan dan pemerintah daerah. Mulai dari upacara
bendera, edukasi literasi keuangan kepada masyarakat, hingga diskusi refleksi
atas perjalanan pengelolaan fiskal Indonesia dari masa ke masa. Di beberapa
daerah, peringatan ini bahkan digabungkan dengan momentum Sumpah Pemuda dan
apel KORPRI, menegaskan bahwa isu keuangan adalah isu kebangsaan.
Mungkin timbul pertanyaan, apa relevansi sejarah ORI dengan
dompet Anda hari ini? Jawabannya sederhana: kepercayaan. Ketika ORI pertama
kali dicetak, rakyat rela bertransaksi dengan uang yang secara fisik mungkin
belum sempurna dan dicetak dengan fasilitas seadanya. Mereka menerima ORI bukan
karena desainnya bagus, melainkan karena ORI adalah simbol bahwa Indonesia
benar-benar merdeka dan berdaulat.
Hari ini, ketika kita menggunakan Rupiah untuk membeli kopi,
membayar pajak, atau menabung, kita sedang melanjutkan perjuangan yang sama:
menjaga kepercayaan terhadap mata uang dan sistem keuangan negara sendiri.
Sebab, sebagaimana ditulis dalam sejarah, uang bukan sekadar alat tukar,
melainkan lambang identitas dan persatuan bangsa.


