16,6 Juta Perempuan Berisiko Kanker Serviks tapi Baru 2,27 Persen yang Mau Periksa, BPJS Kesehatan Lakukan Ini - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

16,6 Juta Perempuan Berisiko Kanker Serviks tapi Baru 2,27 Persen yang Mau Periksa, BPJS Kesehatan Lakukan Ini

Foto bersama peluncuran program Gebyar Pap Smear JKN secara nasional di Kabupaten Bekasi, Kamis (29/10/2026).
Prakata.com — BPJS Kesehatan resmi meluncurkan program Gebyar Pap Smear JKN secara nasional dengan Kabupaten Bekasi sebagai lokasi pembukaannya pada Kamis (29/10/2026). Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat deteksi dini kanker serviks atau kanker leher rahim di kalangan perempuan Indonesia, sekaligus membangkitkan kesadaran peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) agar rutin memeriksakan kesehatan.

Merujuk data BPJS Kesehatan, terdapat 16,6 juta peserta JKN yang terdeteksi berisiko mengalami kanker serviks melalui skrining riwayat kesehatan. Sayangnya, hanya 2,27 persen dari mereka yang kemudian melanjutkan dengan pemeriksaan lebih lanjut. Angka ini menegaskan perlunya penguatan kesadaran publik dan perluasan akses layanan deteksi dini.

Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan, Abdi Kurniawan Purba, menyatakan bahwa Gebyar Pap Smear JKN merupakan bagian dari penguatan layanan kesehatan yang tidak semata berorientasi pada pengobatan, tetapi juga pencegahan melalui deteksi dini.

"BPJS Kesehatan sangat konsen terhadap hal ini. Kita harus mulai melakukan perubahan kebijakan dari kuratif menuju promotif dan preventif, karena berapa pun anggaran yang disediakan negara tidak akan pernah cukup jika kita hanya berfokus pada pengobatan," tuturnya.

Abdi memaparkan alasan pemilihan Kabupaten Bekasi sebagai lokasi peluncuran, yakni ketersediaan tenaga kesehatan terutama bidan yang memadai dan tersebar luas. Selain itu, tingginya jumlah penduduk perempuan dan angka kelahiran menjadi pertimbangan untuk memperkuat edukasi serta pelayanan kesehatan bagi perempuan.

"Kami ingin menggerakkan program ini di seluruh Indonesia. Karena itu, kami berkolaborasi dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) agar upaya deteksi dini kanker serviks dapat menjangkau lebih banyak perempuan," ujarnya.

Menurut Abdi, bidan memegang peran strategis sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Di samping melayani kesehatan ibu dan anak, bidan diharapkan aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya deteksi dini kanker serviks dan mendorong perempuan berisiko segera menjalani pemeriksaan lanjutan.

"Saya berharap ibu-ibu bidan membantu negara dalam menjalankan upaya promotif dan preventif. Pemeriksaan pap smear perlu terus disosialisasikan agar perempuan semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan secara berkala," ungkapnya.

Ia menambahkan, salah satu tantangan dalam pemeriksaan kanker serviks adalah masih adanya rasa malu, takut, dan enggan di kalangan perempuan. Karena itu, edukasi melalui tenaga kesehatan, kader PKK, dan berbagai unsur masyarakat perlu diperkuat agar perempuan lebih terbuka memeriksakan kesehatannya.

"Rasa cemas, malu, dan enggan itu harus kita hilangkan melalui edukasi. Ketika perempuan mendapatkan pemahaman yang benar dan dukungan dari lingkungan sekitarnya, diharapkan mereka tidak lagi ragu untuk melakukan pemeriksaan," jelasnya.

Abdi menegaskan, deteksi dini merupakan langkah penting untuk mengetahui potensi penyakit sebelum berkembang ke tahap yang lebih serius. Peserta yang teridentifikasi berisiko melalui skrining riwayat kesehatan perlu menindaklanjuti hasil tersebut dengan pemeriksaan medis lebih lanjut sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

"Semakin cepat diketahui, semakin cepat diobati, dan semakin cepat pula ditangani. Persoalannya adalah ketika penyakit baru diketahui saat sudah memasuki stadium lanjut, sehingga penanganannya menjadi jauh lebih sulit," tegasnya.

Selain kanker serviks, BPJS Kesehatan juga mendorong penguatan upaya promotif dan preventif terhadap berbagai penyakit lain, termasuk kanker paru dan kanker payudara. Langkah tersebut merupakan bagian dari pengembangan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan pencegahan, deteksi dini, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap risiko penyakit.

Abdi berharap pelaksanaan Gebyar Papsmear JKN dapat menjadi momentum untuk memperluas kolaborasi antara BPJS Kesehatan, IBI, PKK, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam meningkatkan kesehatan perempuan Indonesia.

"Mari kita bersama-sama menjadi corong pemerintah untuk menyampaikan pentingnya upaya promotif dan preventif. Kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan Gebyar Papsmear JKN ini. Semoga ikhtiar dan kolaborasi kita membawa manfaat bagi kesehatan masyarakat," imbuhnya.

Sementara itu, Anggota Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Murti Utami Andyanto mengingatkan program ini tidak hanya sampai di deteksi awal tapi juga memersiapkan langkah lanjutannya bila ditemukan kanker serviks.

"Maka bagaimana mendorong agar masyarakat melakukan pelayanan lanjutan setelahnya. Perlu dorongan seluruh pihak atas hal ini," kata dia.

Murti juga mengusulkan pemeriksaan tidak sebatas papsmear namun juga deteksi terhadap kanker payudara yang juga mematikan di Indonesia.

"Kita ketahui angka kesakitan yang paling berat itu kanker. Dua penyakit terbesar itu payudara dan rahim, ini sangat baik kalau sudah melakukan deteksi. Jadi saya harap sekalian dengan skrining USG payudara karena pemerintah sudah memberikan USG ke seluruh puskesmas. Ini penting karena kalau ibu sakit pasti rumah tangganya tidak akan bahagia," ucap dia. (gud)

Ikuti Berita Terbaru di WhatsApp Channel