![]() |
| Pemilahan sampah oleh Kader Dasa Wisma Jakarta Selatan. |
Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, menekankan bahwa
posisi kader Dasa Wisma sangat strategis lantaran mereka merupakan ujung tombak
organisasi kemasyarakatan yang paling dekat dengan keluarga dan warga.
“Apabila masing-masing kader mampu membangkitkan semangat 10
hingga 20 kepala keluarga binaannya, maka dampak besar terhadap lingkungan bisa
terwujud dengan cepat dan signifikan,” ujar Syafrin di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, para kader tidak hanya dituntut menjadi
penggerak, tetapi juga harus memberi teladan nyata dengan membiasakan diri
memilah sampah organik, anorganik, hingga limbah yang masih memiliki nilai
jual. Menurutnya, kebiasaan baik ini perlu ditularkan ke setiap rumah tangga
binaan agar pemilahan dilakukan langsung dari sumbernya.
Lebih jauh, Syafrin mengimbau masyarakat untuk menyalurkan
sampah bernilai ekonomi ke bank sampah atau program pengelolaan limbah yang
sudah tersedia di lingkungan masing-masing.
“Intinya, kami ingin pengelolaan sampah tidak hanya berhenti
pada kebersihan, tetapi juga menjadi sarana penguatan ekonomi keluarga,
terutama bagi kaum perempuan, agar mereka makin mandiri, produktif, dan
berdaya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan
Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Jakarta Selatan, Rizky Hamid,
menuturkan bahwa peningkatan kapasitas para kader Dasa Wisma merupakan langkah
strategis dalam mengubah perilaku masyarakat agar terbiasa memilah sampah dari
rumah.
“Kami berharap pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi ini
turut meningkatkan ketahanan serta kesejahteraan keluarga,” ucap Rizky.
Ia menambahkan, seluruh 16.530 kader Dasa Wisma se-Jakarta
Selatan telah diberikan edukasi menyeluruh terkait Gerakan Pilah Sampah. Salah
satu contoh keberhasilan yang diangkat adalah Yuliana Sri Hartati, kader Dasa
Wisma dari Kelompok Kranji 2 dan 3, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan
Jagakarsa. Melalui Program Kolaborasi Masyarakat Pilah Oper Kemasan (KOMPAK), Yuliana
dinilai berhasil menginspirasi warga untuk memilah sampah secara mandiri.
“Program ini berjalan dengan pendampingan dari tim desainer
CoLab Rethinking Waste yang berasal dari Indonesia dan Belanda. Ini bukti nyata
kolaborasi lintas negara yang mampu memberdayakan masyarakat dari akar,” beber
Rizky.
Rizky berharap, keterlibatan aktif kader Dasa Wisma dapat
mendorong peningkatan jumlah keluarga yang menjadikan pemilahan sampah sebagai
kebiasaan sehari-hari, sekaligus mengembangkan model pengelolaan limbah yang
memberi nilai tambah ekonomi.
“Kami ingin memperkokoh peran Dasa Wisma sebagai motor penggerak masyarakat, demi mewujudkan Jakarta Selatan yang bersih, sehat, berdaya, dan sejalan dengan semangat Gerakan Jaga Jakarta,” tandasnya. (rtm)


