Museum KAA Bandung Jadi Saksi Sejarah Diplomasi yang Tetap Relevan di Tengah Modernitas - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Museum KAA Bandung Jadi Saksi Sejarah Diplomasi yang Tetap Relevan di Tengah Modernitas

Seorang pengunjung Museum Konferensi Asia-Afrika berdiri di hadapan gambar Presiden RI pertama, Soekarno.
Prakata.com – Di sudut Kota Kembang, tepatnya di kawasan Jalan Asia-Afrika, berdiri megah sebuah bangunan yang menyimpan sejuta kisah perjuangan diplomatik bangsa-bangsa di dua benua. Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA) hingga kini menjelma menjadi primadona wisata edukasi yang tak pernah kehilangan pesonanya.

Lebih dari sekadar deretan etalase dan panel informasi, museum yang berlokasi di kompleks Gedung Merdeka ini rutin didatangi oleh para pelajar, wisatawan nusantara, hingga turis asing yang haus akan pengetahuan tentang momen bersejarah lahirnya solidaritas antarnegara Asia dan Afrika.

Christoforus Katon, selaku Kepala Seksi Publikasi dan Nilai-nilai KAA, mengungkapkan bahwa gagasan pembangunan museum ini berawal dari pemikiran cemerlang Menteri Luar Negeri Indonesia kala itu, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja. Dorongan utama hadirnya museum adalah tingginya keinginan para pemimpin negara Asia dan Afrika untuk menyaksikan langsung Gedung Merdeka, lokasi saksi bisu konferensi bersejarah 1955.

"Wacana pendirian museum ini pada dasarnya bertujuan mengabadikan jejak sejarah dan semangat Konferensi Asia-Afrika. Usulan tersebut pertama kali disampaikan pada peringatan 25 tahun KAA di tahun 1980 dan mendapatkan respons positif dari Presiden Soeharto. Akhirnya, Museum KAA secara resmi dibuka untuk umum pada 24 April 1980, bertepatan dengan momen emas 25 tahun Konferensi Asia-Afrika," papar Christoforus melalui siaran persnya pada Jumat (3/7/2026).

Beragam koleksi berharga tersaji apik di dalam museum. Pengunjung dapat menyaksikan diorama Sidang Pembukaan KAA 1955 yang hidup, perlengkapan jurnalistik lawas, kumpulan foto dan dokumen klasik, serta film dokumenter yang mengupas tuntas jalannya konferensi beserta pengaruhnya bagi percaturan dunia.

Tak hanya fokus pada peristiwa KAA itu sendiri, museum ini juga mengulas perjalanan panjang Gedung Merdeka sebagai bangunan yang menjadi fondasi lahirnya semangat perdamaian dan kolaborasi global.

Antusiasme publik terhadap Museum KAA kian melambung. Data menunjukkan bahwa sepanjang semester pertama 2026 (Januari–Juni), museum ini telah menyambut lebih dari 35.000 pengunjung. Sebagian besar merupakan wisatawan dalam negeri dan rombongan pelajar, sementara pengunjung mancanegara tercatat lebih dari 3.500 orang.

Untuk memaksimalkan pengalaman edukasi, Museum KAA menyediakan pemandu wisata profesional bagi rombongan yang telah melakukan reservasi. Layanan ini tersedia dalam tiga Bahasa, Indonesia, Inggris, dan Mandarin, agar dapat menjangkau wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Yang istimewa, semua layanan kunjungan di museum ini gratis tanpa biaya. Baik pengunjung perorangan maupun kelompok hanya perlu melakukan registrasi melalui laman resmi mkaa.kemlu.go.id/halaman/registrasi-simkuring. Khusus untuk rombongan, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan admin museum sebelum mengisi formulir kunjungan.

Jam operasional Museum KAA berlangsung setiap Rabu hingga Sabtu pukul 09.00–15.00 WIB, dengan jeda istirahat pada pukul 12.00–13.00 WIB. Khusus hari Jumat, jadwal layanan menyesuaikan dengan waktu salat Jumat.

Bagi rombongan, terdapat kuota khusus: sesi pagi (09.00-12.00 WIB) hanya mampu menampung 250 orang, sementara sesi siang (13.00-15.00 WIB) tersedia untuk 200 orang.

Christoforus mengenang bahwa Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung pada 18–24 April 1955 di Gedung Merdeka diikuti oleh 29 negara dari Asia dan Afrika. Peristiwa monumental ini menjadi fondasi terbentuknya semangat kebersamaan antarnegara berkembang dalam memperjuangkan kemerdekaan, kesetaraan, dan perdamaian.

Dengan penuh harap, ia menitipkan pesan agar nilai-nilai luhur KAA terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa.

"Konferensi Asia-Afrika 1955 mengajarkan kepada kita betapa pentingnya solidaritas dan sinergi—baik antarindividu maupun antarbangsa dalam menjaga persatuan dan perdamaian dunia," ujar Christoforus menutup perbincangan.

Di tengah hiruk-pikuk kota modern, Museum Konferensi Asia-Afrika berdiri kokoh bukan hanya sebagai penjaga ingatan kolektif, tetapi juga ruang refleksi yang menumbuhkan inspirasi bagi generasi kini untuk terus menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan, diplomasi, dan kerukunan global. (kyy/rtm)