![]() |
| Wali Kota Bekasi Tri Adhianto (kanan) dan Ketua DPRD Kota Bekasi Sardi Efendi (kiri) dalam kunjungan ke Provinsi Zhejiang, China. |
Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan misi
menggali resep keberhasilan Mizuda dalam merambah dari bisnis tekstil
konvensional hingga menjelma menjadi konglomerasi yang juga menggarap sektor
lingkungan hidup. Dari rahim Mizuda lahirlah Wangneng Environment, perusahaan
pengolah sampah menjadi energi (waste-to-energy) terbesar di China yang
dalam waktu dekat akan membangun fasilitas serupa di Bantargebang, Bekasi.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengungkapkan bahwa
perjalanan Mizuda memberi pelajaran berharga: inovasi tidak hanya menciptakan
lini bisnis baru, tetapi juga tetap terhubung erat dengan industri induknya.
"Kami tidak sekadar belajar soal mesin atau produksi.
Yang paling menarik adalah bagaimana Mizuda terus berkreasi hingga memunculkan
Wangneng sebagai entitas pengelola lingkungan. Ini bukti nyata bahwa inovasi
bisa menghasilkan nilai ekonomi ganda sekaligus menjadi solusi atas krisis
ekologi," ujar Tri melalui keterangan tertulisnya, Selasa (30/6/2026).
Menurut Tri, pengalaman ini menjadi peta jalan penting bagi
Pemkot Bekasi dalam merancang wajah baru kawasan Bantargebang. Ia berharap
kehadiran PSEL nantinya bukan hanya menjadi proyek akhir, melainkan pemicu
tumbuhnya ekosistem industri berbasis ekonomi sirkular yang saling menyokong
dan memberi dampak ekonomi langsung bagi warga.
Tak berhenti di urusan sampah, rombongan juga menjajaki
peluang kolaborasi antara Mizuda Group dan Dekranasda Kota Bekasi untuk
mengerek sektor fesyen lokal. Ruang lingkup kerja sama yang dibidik meliputi
pendampingan desainer muda, peningkatan kualitas produk UMKM, program
pertukaran pengetahuan, hingga akses ke pasar internasional.
"Bekasi punya banyak anak muda kreatif yang tinggal
diberi ruang dan akses agar mampu go global. Kami ingin kolaborasi ini menjadi
wadah belajar sekaligus ajang melahirkan produk fesyen asal Bekasi yang berdaya
saing tinggi," tambahnya.
Dalam pertemuan itu, Tri juga menyampaikan undangan terbuka
kepada Mizuda untuk menanamkan investasi di Kota Bekasi. "Kami bahkan
berharap ke depan Bantargebang bisa menjadi pilihan lokasi pengembangan
industri mereka. Visi kami menjadikan kawasan itu pusat inovasi lingkungan
sekaligus zona ekonomi hijau," tegasnya.
"Bukan hanya ada fasilitas pengolahan sampah, tetapi
juga tumbuh industri yang membuka lapangan kerja, membawa transfer teknologi,
dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat," imbuhnya.
Tri menegaskan bahwa transformasi Bantargebang harus
dilakukan secara holistik. PSEL adalah fondasi, yang kemudian diperkuat oleh
industri turunan seperti pemanfaatan fly ash dan bottom ash (FABA), masuknya
investasi baru, pendirian pusat inovasi, hingga pertumbuhan sektor kreatif dan
manufaktur yang mendukung ekonomi sirkular.
"Saya bermimpi lima hingga sepuluh tahun ke depan, ketika orang mendengar nama Bantargebang, yang muncul di benak mereka bukan lagi tumpukan sampah. Melainkan sebuah kawasan yang sukses bertransformasi menjadi pusat inovasi lingkungan, episentrum pertumbuhan ekonomi hijau, dan tempat lahirnya berbagai peluang baru bagi masyarakat Kota Bekasi," pungkasnya dengan penuh optimisme. (gud)


