![]() |
| Junaq Tayani atau Yongki menceritakan sejarah peristiwa Kudatuli 1996 di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Bekasi. |
Yongki hadir mengenang momen ketika kantor DPP PDI di Jalan
Diponegoro, Jakarta, menjadi saksi bisu perlawanan rakyat bawah terhadap
kesewenangan.
Bagi Yongki, peristiwa itu bukan sekadar cerita dari masa
lalu, melainkan sebuah pengalaman personal yang membekas hingga kini. Saat itu,
ia berposisi sebagai perwakilan POSKO Pemuda dan Mahasiswa yang bertugas
menjaga kantor DPP.
Ia menyebutkan bahwa peristiwa itu adalah puncak dari
rangkaian kejadian sejak 1993, di mana dinamika politik dalam negeri mulai
memanas. "Kalau terjadi apa-apa, kita sudah lebih cepat responnya,"
kenangnya.
Namun, ironi terjadi pada pagi hari yang kelam itu. Yongki
mengaku baru saja tertidur setelah begadang, saat tahu-tahu kantor diserbu
sekitar pukul 05.30 atau 06.30. Ia terbangun bukan oleh suara teman, melainkan
oleh bunyi kumprang-kumprang dan lemparan batu.
"Saya beneran lagi tidur, tahu-tahu diserbu,"
ujarnya dengan nada getir. Ia menyayangkan fakta sejarah bahwa yang dipenjara
justru mereka yang sedang tertidur, sebuah bentuk kesewenangan yang menurutnya
masih relevan untuk direnungkan hari ini.
Yongki menegaskan, kantor DPP pada saat itu adalah simbol
kedaulatan partai. Baginya dan rekan-rekan, menjaga kantor berarti menjaga
marwah organisasi, sebagaimana seseorang menjaga nama besar keluarganya.
Meski ada benturan internal dan pengakuan pemerintah
terhadap kepemimpinan Suryadi, bagi Yongki, yang terjadi adalah pengambilalihan
dengan cara yang tidak benar. "Kalau PDI Perjuangan enggak akan mencoba
untuk Bijaksana. Tapi arus bawah atau suara rakyat tidak akan pernah bisa
dibendung," tegasnya.
Pria yang mengaku belum menjadi anggota partai saat itu,
namun terpanggil untuk membela rakyat, menyampaikan pesan mendalam bagi
generasi masa kini, khususnya Gen Z dan Gen Alpha.
"Tetaplah kritis, tetaplah bersama dengan rakyat agar
mengetahui nafas dan nadihnya rakyat," ujarnya.
Ia mengingatkan agar anak-anak muda tidak melompati sejarah
hanya karena gempuran media sosial atau pengaruh influencer. "Mereka harus
tahu sejarah dulu. Itu fakta yang dialami sendiri," pungkasnya.
Malam itu, peringatan Kudatuli menjadi pengingat bahwa sejarah bukanlah sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin untuk melangkah ke masa depan yang lebih adil. (gud)


