Menjaga Marwah di Tengah Malam, Junaq Tayani, Saksi Bisu Kudatuli 1996 - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Menjaga Marwah di Tengah Malam, Junaq Tayani, Saksi Bisu Kudatuli 1996

Junaq Tayani atau Yongki menceritakan sejarah peristiwa Kudatuli 1996 di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Bekasi.
Prakata.com – Suasana di DPC PDI Perjuangan Kota Bekasi pada Minggu (26/7/2026) malam terasa khidmat namun sarat makna. Di tengah peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli, Junaq Tayani, yang akrab disapa Yongki, tampil bukan sebagai politisi, melainkan sebagai saksi sejarah yang menceritakan detik-detik mencekam 27 Juli 1996.

Yongki hadir mengenang momen ketika kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, menjadi saksi bisu perlawanan rakyat bawah terhadap kesewenangan.

Bagi Yongki, peristiwa itu bukan sekadar cerita dari masa lalu, melainkan sebuah pengalaman personal yang membekas hingga kini. Saat itu, ia berposisi sebagai perwakilan POSKO Pemuda dan Mahasiswa yang bertugas menjaga kantor DPP.

Ia menyebutkan bahwa peristiwa itu adalah puncak dari rangkaian kejadian sejak 1993, di mana dinamika politik dalam negeri mulai memanas. "Kalau terjadi apa-apa, kita sudah lebih cepat responnya," kenangnya.

Namun, ironi terjadi pada pagi hari yang kelam itu. Yongki mengaku baru saja tertidur setelah begadang, saat tahu-tahu kantor diserbu sekitar pukul 05.30 atau 06.30. Ia terbangun bukan oleh suara teman, melainkan oleh bunyi kumprang-kumprang dan lemparan batu.

"Saya beneran lagi tidur, tahu-tahu diserbu," ujarnya dengan nada getir. Ia menyayangkan fakta sejarah bahwa yang dipenjara justru mereka yang sedang tertidur, sebuah bentuk kesewenangan yang menurutnya masih relevan untuk direnungkan hari ini.

Yongki menegaskan, kantor DPP pada saat itu adalah simbol kedaulatan partai. Baginya dan rekan-rekan, menjaga kantor berarti menjaga marwah organisasi, sebagaimana seseorang menjaga nama besar keluarganya.

Meski ada benturan internal dan pengakuan pemerintah terhadap kepemimpinan Suryadi, bagi Yongki, yang terjadi adalah pengambilalihan dengan cara yang tidak benar. "Kalau PDI Perjuangan enggak akan mencoba untuk Bijaksana. Tapi arus bawah atau suara rakyat tidak akan pernah bisa dibendung," tegasnya.

Pria yang mengaku belum menjadi anggota partai saat itu, namun terpanggil untuk membela rakyat, menyampaikan pesan mendalam bagi generasi masa kini, khususnya Gen Z dan Gen Alpha.

"Tetaplah kritis, tetaplah bersama dengan rakyat agar mengetahui nafas dan nadihnya rakyat," ujarnya.

Ia mengingatkan agar anak-anak muda tidak melompati sejarah hanya karena gempuran media sosial atau pengaruh influencer. "Mereka harus tahu sejarah dulu. Itu fakta yang dialami sendiri," pungkasnya.

Malam itu, peringatan Kudatuli menjadi pengingat bahwa sejarah bukanlah sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin untuk melangkah ke masa depan yang lebih adil. (gud)