![]() |
| Perkembangan Nilai Tukar Petani Provinsi di Pulau Jawa. |
Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Ali Said, menyampaikan
rilis tersebut melalui kanal YouTube resmi lembaganya pada Rabu (1/7/2026).
Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan bahwa dari enam provinsi di Pulau Jawa,
hanya tiga yang mencatatkan tren positif, sementara tiga lainnya justru
mengalami penurunan.
"Provinsi yang berhasil mencatatkan kenaikan NTP adalah
Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten. Sementara itu, penurunan NTP terjadi di
tiga provinsi lainnya," ujar Ali Said.
Menariknya, peningkatan NTP di Jawa Tengah yang dipimpin
oleh Gubernur Ahmad Luthfi ini mencapai 0,75 persen. Angka ini berbanding
terbalik dengan kondisi di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mencatat penurunan
terdalam hingga -0,75 persen. Dari seluruh subsektor, capaian NTP tertinggi
justru disumbang oleh subsektor tanaman pangan dan hortikultura.
Sebagai pengingat, NTP merupakan cerminan kemampuan daya
beli petani di pedesaan. Ketika NTP meningkat, artinya harga hasil panen petani
naik lebih cepat dibandingkan harga barang dan jasa konsumsi yang mereka
perlukan. Angka ini diperoleh dari perbandingan antara Indeks Harga yang
Diterima Petani (It) dan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).
Ali Said menjelaskan, lonjakan NTP kali ini dipicu oleh
pertumbuhan It yang mencapai 1,25 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Ib
yang hanya 0,49 persen. "It tercatat naik ke angka 154,76 pada Juni 2026,
didorong oleh komoditas seperti gabah, bawang merah, jagung, kol, dan
wortel," rincinya.
Di sisi lain, nilai Ib juga mengalami kenaikan tipis sebesar
0,49 persen ke level 130,85. Adapun komoditas yang paling memengaruhi kenaikan
Ib antara lain bawang merah, bensin, sapi bakalan, dan bawang putih.
Dalam kesempatan yang sama, BPS Jateng juga merilis data
perdagangan eksternal yang menunjukkan kinerja menggembirakan. Nilai ekspor
Jawa Tengah pada Mei 2026 tercatat sebesar 1.298,00 juta dolar AS, melonjak
33,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Kenaikan signifikan ini terutama disumbang oleh ekspor
komoditas nonmigas yang mencapai 1.175,22 juta dolar AS, atau tumbuh 22,85
persen secara year-on-year (yoy) dibandingkan Mei 2025," jelas Ali.
Selain itu, BPS juga melaporkan tingkat inflasi tahunan
(year-on-year) Provinsi Jawa Tengah pada Juni 2026 berada di angka 2,92 persen
dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,64. Dari seluruh kabupaten/kota,
inflasi tertinggi terjadi di Kota Tegal dengan 3,13 persen (IHK 112,24),
sedangkan terendah di Kabupaten Wonosobo dengan 2,76 persen (IHK 113,42).
"Untuk inflasi bulanan (m-to-m) tercatat sebesar 0,31 persen, dan inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 1,51 persen hingga Juni 2026," tutup Ali Said. (aka/ul/rtm)


