| Inisiator Garuda 8 Nuswantara, Heru Budi Wasesa (tengah) bersama keluarga di depan T'Holt Hotel Belanda. |
Menurut Heru, pernyataan tersebut justru harus disikapi positif, asalkan kepergian dilakukan untuk berjuang secara ekonomi, bukan sekadar lari dari kenyataan.
"Kabur saja dulu atau pergi saja ke Yaman, saya menanggapinya dengan positif, tetapi kepergian itu tentunya untuk berjuang secara ekonomi. Di dalam negeri tidak mendapat kesempatan yang baik, atau pergi berjuang untuk kembali," ujar Heru di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
Heru mencontohkan pengalaman keluarganya yang pergi ke Eropa dengan modal seadanya, bekerja keras hingga membangun hotel, restoran, peternakan, hingga organisasi pengusaha diaspora.
Alumni Universitas Pertahanan (Unhan) RI ini menegaskan bahwa para perantau dan pekerja migran Indonesia bukanlah pecundang, melainkan pejuang sejati yang justru tidak bergantung pada subsidi, koneksi, atau kolusi.
"Jadi jangan anggap mereka yang pergi adalah loser atau pecundang. Mereka berjuang tanpa subsidi, tanpa koneksi, tanpa kolusi, jauh dari Ibu Pertiwi, dan survive bahkan berkembang," ujarnya.
"Mereka akan kembali dalam versi yang lebih baik. Bukankah pemimpin kita juga pernah melakukan hal yang sama? Indonesia hebat, bangsa pejuang, bukan jago kandang," lanjut Heru.
Pernyataan Heru merujuk pada kesuksesan diaspora Indonesia di Belanda, seperti yang diberitakan media dari Negeri Kincir Angin, Wegdamnieuws.nl pada 26 April 2026 tentang gelaran malam Indonesia di sebuah restoran.
Acara yang menyajikan prasmanan khas Nusantara seperti soto ayam, rendang, sate, hingga puding Indonesia dan spekkoek itu sukses besar hingga penuh sesak, bahkan akan diadakan kembali pada 11 Juli mendatang.
Heru menegaskan bahwa cinta Tanah Air tetap hidup di hati para perantau, dan mereka membuktikan diri sebagai warrior sejati, bukan sekadar jagoan di kampung sendiri. (gud)


