![]() |
| Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi dan Taj Yasin. |
Menghadapi
situasi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bergerak sigap dengan
mengambil langkah-langkah komprehensif. Penanganan darurat hingga proses
pemulihan pascabencana dipastikan berjalan beriringan dan efektif.
Di tengah
berbagai cobaan alam, program-program unggulan tetap berjalan lancar. Berbagai
sektor strategis seperti pembangunan infrastruktur, investasi, pendidikan,
kesehatan, hingga upaya pengentasan kemiskinan menunjukkan hasil yang positif.
Terobosan pun
lahir dari kebijakan yang berpihak pada rakyat, seperti program dokter
spesialis keliling (Speling) yang memberikan layanan kesehatan gratis, sekolah
kemitraan dan beasiswa santri untuk mendukung pendidikan, serta perbaikan Rumah
Tidak Layak Huni (RTLH) dan program rumah rakyat.
Semua itu
dilakukan semata-mata untuk mendorong pembangunan dan kesejahteraan masyarakat
Jawa Tengah. Pasangan ini dikenal memahami betul persoalan di daerahnya. Mereka
aktif menyerap aspirasi dari berbagai elemen masyarakat melalui beragam kanal,
bahkan tak segan turun langsung berdialog dengan warga untuk mencari solusi
atas setiap permasalahan yang dikeluhkan.
Gaya kepemimpinan
kolaboratif menjadi ciri khas Luthfi-Yasin. Mereka gencar menggandeng berbagai
pihak, mulai dari para bupati dan wali kota, puluhan perguruan tinggi, pelaku
usaha, investor, provinsi tetangga, negara sahabat, hingga tokoh masyarakat dan
organisasi kemasyarakatan. Pendekatan yang disebut sebagai collaborative government atau pemerintahan kolaboratif ini dinilai
sebagai cara terbaik membangun Jawa Tengah secara bersama-sama.
"Kami gandeng
beberapa kampus dan seluruh potensi masyarakat. Collaborative government ini adalah cara kita bersama-sama untuk
membangun Jawa Tengah," ujar Ahmad Luthfi beberapa waktu lalu.
Menurut mantan
Kapolda Jateng itu, pemerintahan kolaboratif menjadi sebuah keharusan karena
pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota tidak bisa berjalan sendiri.
Dibutuhkan peran aktif semua elemen untuk memajukan wilayah. Semangat gotong
royong, kebersamaan, dan kerja tim menjadi napas pembangunan di Jawa Tengah
yang diimplementasikan di setiap sektor.
Kerja keras
tersebut membuahkan hasil manis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),
pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan IV tahun 2025 mencapai 5,37
persen secara tahunan (year on year).
Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan nasional yang sebesar 5,11 persen,
sekaligus menempatkan Jateng sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi
tertinggi kedua di Pulau Jawa.
Capaian investasi
juga menggembirakan. Nilai realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp88,50
triliun, terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun dan
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp37,64 triliun. Angka tersebut
merupakan rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Dari total investasi itu,
sebanyak 105.078 proyek terealisasi dan berhasil menyerap tenaga kerja hingga
418.138 orang.
Dampak positifnya
juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Angka kemiskinan di Jawa Tengah turun
signifikan dari 9,48 persen pada Maret 2025 menjadi 9,39 persen pada September
2025. Jumlah penduduk miskin berkurang 21,87 ribu orang dibanding Maret 2025,
dan turun 51,52 ribu orang dibanding September 2024. Pada periode yang sama,
rasio gini berada di angka 0,350 yang menunjukkan ketimpangan pendapatan
semakin mengecil.
Peningkatan ekonomi
juga tercermin dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita yang
mencapai Rp50,82 juta, naik 5,9 persen dari tahun sebelumnya. Sementara tingkat
pengangguran terbuka berhasil dijaga di angka 4,32 persen per November 2025.
Meski demikian,
Pemprov Jateng tak berpuas diri. Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen atau akrab
disapa Gus Yasin mengakui masih ada pekerjaan rumah di sektor Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) yang saat ini berada di angka 74,77.
"Angka
kemiskinan bisa kita turunkan, kondisi kita semakin baik. Ini harus terus kita
tingkatkan. Penurunan angka kemiskinan harus kita masifkan lagi. Anggaran harus
diarahkan untuk penurunan kemiskinan secara bersama, termasuk memberikan akses
pendidikan yang lebih baik bagi kelompok disabilitas agar kualitas hidup mereka
meningkat," tegas Gus Yasin.
Keberhasilan ini
bukan sekadar angka, tetapi benar-benar dirasakan warga. Pada Agustus 2025,
sebanyak 2.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kabupaten Brebes resmi keluar
dari data kemiskinan dan tidak lagi menerima bantuan sosial. Mereka dinyatakan
siap hidup mandiri melalui program graduasi kemiskinan.
Salah satunya
adalah Setia Puji, warga Brebes yang menerima bansos selama 2020-2025. Usai
kembali dari perantauan, ia mengembangkan usaha bakso keliling. Kini usahanya
berkembang dan ia mampu memenuhi kebutuhan keluarganya secara mandiri.
"Bantuan yang diberikan sangat meringankan beban. Namun motivasi saya
harus bisa mandiri. Kini ekonomi kami lebih mampu," tuturnya.
Kesuksesan
pendekatan kolaboratif Luthfi-Yasin dalam menggenjot investasi dan pertumbuhan
ekonomi mendapat apresiasi luas, termasuk dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional,
Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut menilai upaya kolaborasi yang dilakukan Gubernur
Jateng berhasil menjadikan provinsi ini sebagai magnet bagi para investor.
Sepanjang tahun
2025, berbagai capaian positif mengantarkan Pemprov Jateng meraih setidaknya 40
penghargaan dari berbagai lembaga. Namun bagi Ahmad Luthfi, penghargaan
bukanlah tujuan akhir.
"Penghargaan ini menjadi pengingat agar kebijakan yang kami jalankan benar-benar berdampak, melayani masyarakat, menjaga integritas, menstabilkan ekonomi, dan membuka ruang investasi seluas-luasnya. Membangun Jateng adalah proses ngopeni (merawat). Masih ada lubang-lubang yang harus ditambal bersama. Inilah alasan mengapa kolaborasi tidak boleh berhenti, karena tugas melayani rakyat adalah amanah yang tidak ada ujungnya," pungkasnya. (Rtm)


