![]() |
| Bendera Iran dan Bendera Amerika Serikat. |
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri AS membenarkan bahwa
personel non-darurat serta anggota keluarga yang memenuhi syarat telah
dievakuasi dari misi diplomatik tersebut. Ia menegaskan bahwa pengurangan jumlah
staf ini bersifat temporer.
“Kami terus melakukan evaluasi terhadap situasi keamanan
secara berkala. Berdasarkan hasil penilaian terbaru, diputuskan bahwa langkah
paling tepat adalah mempertahankan hanya staf esensial di kedutaan,” jelas
pejabat tersebut.
“Kedutaan masih beroperasi dengan staf inti. Ini adalah
tindakan sementara demi menjaga keselamatan personel, sekaligus memastikan
pelayanan terhadap warga negara AS tetap berjalan,” tambahnya.
Dalam unggahan di media sosial X, pihak kedutaan
menyampaikan bahwa personelnya “dilarang melakukan perjalanan pribadi tanpa
izin terlebih dahulu.”
“Pembatasan perjalanan tambahan bisa diterapkan
sewaktu-waktu terhadap personel AS di bawah tanggung jawab keamanan Kepala
Perwakilan, tanpa pemberitahuan sebelumnya, menyusul meningkatnya potensi
ancaman keamanan,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Iran dan AS dijadwalkan kembali menggelar pertemuan di
Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2/2026)
untuk membahas kemungkinan kesepakatan terkait program nuklir Iran. Pertemuan
ini berlangsung di tengah ketegangan regional yang kian meruncing serta isu
kemungkinan konflik bersenjata dalam waktu dekat.
Putaran perundingan tersebut juga terjadi saat Amerika
Serikat meningkatkan kehadiran militernya di Teluk Persia secara signifikan,
sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menggelar serangkaian latihan
perang dalam beberapa hari terakhir.
Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan peringatan akan kemungkinan aksi militer terhadap Iran apabila kesepakatan tidak tercapai dalam kurun waktu 10 hingga 15 hari ke depan. (Ana)


