Golkar Soroti LPDP, Sarmuji: Jangan Sampai Beasiswa Hanya Dinikmati Kaum Berduit - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Golkar Soroti LPDP, Sarmuji: Jangan Sampai Beasiswa Hanya Dinikmati Kaum Berduit

Sekretaris Jenderal Partai Golkar sekaligus Ketua Fraksi Golkar DPR RI, Muhammad Sarmuji.
Prakata.com – Sekretaris Jenderal Partai Golkar sekaligus Ketua Fraksi Golkar DPR RI, Muhammad Sarmuji, mengingatkan agar beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya kalangan berada. Ia menegaskan pentingnya kebijakan afirmatif agar program yang bersumber dari uang rakyat ini tidak menjadi eksklusif bagi kelompok sosial-ekonomi tertentu.

Pernyataan itu disampaikan Sarmuji merespons sorotan publik terhadap Dwi Sasetyaningtyas, penerima beasiswa LPDP yang videonya soal anaknya menjadi warga negara Inggris viral dan menuai kecaman. Dwi merupakan alumni S2 di Delft University of Technology, Belanda (2017), sementara suaminya, Arya Iwantoro, juga menempuh S2 dan S3 di Utrecht University melalui jalur beasiswa serupa pada 2017–2022.

“Saya sudah mengingatkan hal ini dalam rapat kerja dengan Kementerian Keuangan awal tahun 2022. Saya sampaikan, kalau tidak ada penekanan dan afirmasi yang tegas, LPDP bisa hanya dinikmati orang kaya,” ujar Sarmuji dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (22/2/2026).

Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar soal pilihan pribadi, melainkan desain kebijakan yang harus mencerminkan keadilan sosial. Saat ini, struktur persyaratan LPDP dinilai lebih mudah dipenuhi oleh mereka yang sejak awal telah memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas.

“Syarat seperti skor TOEFL tertentu itu berat. Yang bisa memenuhi rata-rata adalah orang kaya, karena mereka sejak kecil difasilitasi sekolah dan kursus terbaik. Sementara anak dari keluarga kurang mampu, misalnya yang sekolah sambil jualan pentol, sangat sulit memenuhi kriteria itu,” jelasnya.

Sarmuji menekankan bahwa yang paling utama dari sebuah beasiswa adalah potensi akademik seseorang untuk mampu mengikuti pembelajaran di perguruan tinggi dunia. Hambatan bahasa, kata dia, seharusnya bisa diatasi negara melalui program persiapan atau afirmasi.

“Standar akademik harus tetap tinggi. Tapi negara harus hadir membantu mereka yang secara struktural tidak beruntung. Jangan sampai yang mampu justru punya banyak alternatif, sementara yang tidak mampu kehilangan satu-satunya tangga untuk mengubah nasib,” tegas legislator asal Jawa Timur itu.

Ia juga menyoroti minimnya akses alumni pondok pesantren terhadap beasiswa LPDP. Tanpa kebijakan afirmatif, alumni pesantren akan sulit bersaing karena kurikulum yang harus membagi porsi antara ilmu agama dan umum.

“Sekalipun ada pesantren modern dengan kurikulum mapan, jumlahnya terbatas. Jika ada alumni pesantren yang berhasil meraih LPDP, itu luar biasa. Tapi negara harus memberi perhatian khusus,” katanya.

Sarmuji berharap polemik yang berkembang tidak berhenti pada kecaman personal, melainkan menjadi momentum evaluasi kebijakan agar dana abadi pendidikan benar-benar dirasakan oleh anak bangsa dari berbagai latar belakang.

“Dana abadi pendidikan berasal dari pajak rakyat. Semangatnya harus keadilan sosial. Jangan sampai tanpa sadar, yang menikmati berulang hanya kelompok tertentu. Negara harus hadir memberi afirmasi agar yang lemah juga punya kesempatan untuk naik,” tutupnya. (zen)