Indonesia dan Brasil Jalin Kerjasama Strategis, Dari Etanol Hingga Nuklir - Prakata.com | Kata-kata Dalam Berita
tRbFFwIJXCPvDkjdZ6hw7BrVzKSmv3z6tIDMFXHn
Bookmark

Indonesia dan Brasil Jalin Kerjasama Strategis, Dari Etanol Hingga Nuklir

Kerjasama strategis antara Indonesia dengan Brasil. Foto: Ilustrasi.
Prakata.com – Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), memperkuat kerja sama energi dengan Brasil. Kolaborasi strategis ini mencakup dua bidang utama: pemanfaatan bioetanol untuk bahan bakar campuran dan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, Brasil tidak hanya menjadi mitra dalam pengembangan bioetanol, tetapi juga berpotensi menjadi mitra kunci untuk program nuklir Indonesia. Hal ini didasari oleh kepemilikan Brasil atas cadangan uranium dan pengalamannya mengoperasikan PLTN.

"Kami juga menjajaki peluang kerja sama di bidang nuklir. Mereka memiliki sumber daya uranium dan telah memiliki pengalaman dengan pembangkit nuklir," jelas Bahlil usai menghadiri Upacara Peringatan Hari Pertambangan dan Energi ke-80 di Monas, Jakarta, Jumat (24/10/2025).

Komitmen pemerintah terhadap energi nuklir semakin nyata dengan disahkannya Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN 2025-2034, yang memuat PLTN sebagai salah satu sumber energi baru.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, membeberkan peta jalan pengembangan PLTN. Tahap awal akan dimulai dengan proyek percontohan berkapasitas 250 Megawatt (MW) di dua lokasi, yaitu Sumatera dan Kalimantan.

Namun, ambisi jangka panjang pemerintah jauh lebih besar. Berdasarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), kapasitas pembangkit nuklir ditargetkan mencapai 35 GigaWatt (GW) pada tahun 2060. Capaian ini diperkirakan membutuhkan lebih dari 30 unit reaktor nuklir berbasis darat (land-based).

"Dua lokasi pertama masing-masing 250 MW. Namun, target kami dalam RUKN untuk nuklir bisa mencapai 35 GW. Jika menggunakan model land-based, diperkirakan akan ada lebih dari 30 unit PLTN. Nuklir adalah salah satu solusi untuk base load energy," papar Eniya dalam Human Capital Summit (HCS) 2025, Rabu (4/6/2025).

Untuk mendukung program besar ini, pemerintah sedang mempersiapkan pembentukan Badan Tenaga Nuklir Indonesia (NEPIO). Eniya menyebutkan bahwa koordinasi intensif sedang dilakukan dengan Kementerian Sekretariat Negara (Setneg) dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB).

Aspek krusial yang menjadi perhatian utama adalah penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Dibutuhkan tenaga ahli yang kompeten, khususnya dalam hal operasional dan standar keselamatan nuklir yang mengacu pada badan atom internasional, IAEA.

"Kita membutuhkan SDM yang memahami teknologi nuklir, cara pengoperasiannya, serta aspek keselamatannya. Semua negara yang mengoperasikan PLTN mengacu pada standar IAEA," tegas Eniya.

Kerja sama dengan Brasil dinilai sebagai langkah strategis untuk mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi, mengamankan pasokan bahan baku uranium, serta mewujudkan target energi bersih dan bauran energi nasional di masa depan. (zen)

Ikuti Berita Terbaru di WhatsApp Channel