| Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari. |
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu
Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengungkapkan bahwa investasi
asing (PMA) mendominasi dengan kontribusi Rp25,63 triliun (56%), sementara
investasi dalam negeri (PMDN) menyumbang Rp19,95 triliun (44%). Selain itu,
proyek baru yang terbentuk mencapai 59.100 unit.
"Alhamdulillah, ini rekor tertinggi yang pernah kami
capai. Pertumbuhan investasi terus meningkat dari triwulan ke triwulan,
membuktikan Jawa Tengah tetap menjadi destinasi favorit investor," ujar
Sakina dalam keterangan pers, Senin (4/8/2025).
Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, realisasi
investasi di Jateng melonjak 37,41%. Pada semester I 2024, total investasi
tercatat Rp33,17 triliun, terdiri dari PMA Rp15,04 triliun dan PMDN Rp18,13
triliun.
Investor asing paling banyak menanamkan modal di Kabupaten
Demak (Rp5,93 triliun), disusul Kendal (Rp4,30 triliun), Kota Semarang (Rp2,01
triliun), Batang (Rp1,86 triliun), dan Pemalang (Rp1,41 triliun). Sementara
untuk PMDN, Kota Semarang memimpin dengan Rp3,73 triliun, diikuti Blora (Rp1,55
triliun), Kendal (Rp1,44 triliun), Banyumas (Rp1,26 triliun), dan Tegal (Rp1,18
triliun).
Singapura menjadi negara dengan investasi terbesar (Rp5,87
triliun), diikuti Tiongkok (Rp5,42 triliun), Hongkong (Rp4,46 triliun), Korea
Selatan (Rp3,39 triliun), dan Samoa Barat (Rp0,83 triliun).
Meski realisasi investasi Jateng tidak selalu tertinggi,
provinsi ini unggul dalam penyerapan tenaga kerja dengan 222.373 orang,
mengalahkan Jawa Barat (203.461), DKI Jakarta (185.995), Jawa Timur (170.870),
dan Banten (109.377).
"Hal ini menunjukkan bahwa sektor padat karya masih
menjadi andalan di Jawa Tengah," tegas Sakina.

