![]() |
Wakil Ketua DPR RI Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Korkesra), Cucun Ahmad Syamsurijal. |
FGD ini turut dihadiri oleh perwakilan Ditjen Pendidikan
Vokasi Kemendikbudristek dan BPSDM Kemenperin. Tujuannya adalah meminimalisir gap
antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan industri. Sebagai tindak lanjut,
disepakati pilot project pembinaan di 30 pesantren yang akan dirangkul
langsung oleh dunia usaha. Harapannya, lulusan pesantren—khususnya dari SMK
berbasis pesantren, memiliki kompetensi siap kerja.
"Dengan program ini, lulusan tidak perlu bingung
mencari kerja karena sudah ada penyerap tenaga. Ini upaya konkret menekan
pengangguran," tegas Cucun.
Data BPS Februari 2025 menunjukkan tingkat pengangguran
terbuka (TPT) mencapai 5,32%, atau sekitar 7,2 juta orang, dengan mayoritas
berasal dari lulusan SMA/SMK. Cucun menilai ini sebagai tantangan struktural
yang harus diatasi melalui transformasi pendidikan vokasi dan pesantren.
"APBN harus berdampak nyata, tidak sekadar anggaran
tanpa koneksi dengan industri," tegas politisi PKB tersebut.
SMK Mitra Industri Bekasi dan Akademi Toyota disebut sebagai
contoh sukses kerja sama pendidikan-industri. Akademi Toyota bahkan menjadi
pusat pelatihan teknisi otomotif berstandar global. Keberhasilan ini diharapkan
bisa diterapkan di pesantren dengan pendekatan yang relevan.
Ditjen Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek menyatakan
dukungan penuh, termasuk dalam penyusunan kurikulum berbasis industri dan
pelatihan guru. Cucun berharap pilot project ini bisa berkembang menjadi
program nasional.
"Negara harus hadir secara nyata, bukan hanya di atas
kertas. Anak muda, termasuk dari pesantren, berhak merasakan manfaatnya,"
tandasnya.
Program ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat link and match pendidikan-industri serta menjadikan pesantren sebagai pusat vokasi dan pemberdayaan ekonomi lokal. (ssb/aha)
Ikuti Berita Terbaru di WhatsApp Channel