![]() |
| Ketua DPD PSI Kota Bekasi, Tanti Herawati. |
Prakata.com – Raden Adjeng (RA) Kartini, yang lahir pada 21 April 1879 di Jepara, hingga kini tetap menjadi simbol perjuangan kesetaraan bagi perempuan Indonesia.
Melalui bukunya "Habis Gelap Terbitlah Terang", Kartini menginspirasi perempuan untuk terus bersuara, termasuk dalam dunia politik. Namun, di Kota Bekasi, keterwakilan perempuan di legislatif dinilai masih jauh dari harapan.
Tanti Herawati, Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Bekasi sekaligus anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi, menyatakan bahwa kesenjangan porsi kursi antara laki-laki dan perempuan di dewan masih terjadi.
"Di Kota Bekasi, masih sedikit perempuan yang terlibat di politik. Keterbatasan kuota 30% menunjukkan bahwa perempuan masih dipandang sebagai minoritas. Kenapa tidak dibuat setara?" ujarnya, melalui sambungan WhatsApp, Senin (21/4/1025).
Menurutnya, kesetaraan gender di Kota Bekasi belum tercapai secara menyeluruh. Saat ini, hanya ada sembilan perempuan yang duduk di DPRD Kota Bekasi.
"Idealnya, bisa fifty-fifty (50:50) lah. Perempuan harus memiliki ruang yang sama untuk berkontribusi," tegas Tanti.
PSI sebagai partai yang memiliki konsen pada kaderisasi kaum perempuan, lanjutnya, berkomitmen memprioritaskan keterwakilan perempuan.
"Kami mendorong perempuan untuk berdaya, berkarya, dan menginspirasi sesama. Di PSI, dua anggota dewan kami adalah perempuan. Setidaknya, kami berjuang untuk membuktikan bahwa perempuan bisa mandiri di politik," jelasnya.
Tanti menegaskan bahwa Kartini adalah sosok yang mengajarkan pentingnya perjuangan, termasuk di ranah politik.
"Perempuan harus terjun ke politik karena di sinilah kebijakan dibuat. Kasus kekerasan terhadap perempuan masih tinggi di Indonesia. Dengan politik, kita bisa memperjuangkan hak-hak mereka," ucapnya.
Ia berharap perempuan Bekasi dapat terus berperan aktif membangun kota dan negara.
"Semoga semakin banyak Kartini-Kartini masa kini yang berani mengambil peran, tidak hanya di rumah, tapi juga di ruang publik, termasuk politik," pungkasnya. (Gud)


